Selasa, 06 Oktober 2009

MANAJEMEN SISTEM DATABASE

Sistem Manajemen Database

Pokok Bahasan:
1. Database
2. Sistem pengolahan
3. Organisasi data
4. Model model organisasi data
Pendahuluan
Manajemen data merupakan bagian dari manajemen sumber daya informasi yang membantu perusahaan agar sumber daya informasi yang dimilikinya mencerminkan secara akurat sistem phisik yang diwakilinya. Masalah yang dihadapi dalam manajemen data ini seringkali diawali dengan masalah menentukan data apa yang harus dimasukan untuk diolah. Setelah data tersebut dapat ditentukan maka langkah selanjutnya adalah menen¬tukan bagaimana agar data yang diperoleh itu dapat mencerminkan keadaan atau peristiwa yang sebenarnya sehingga pada akhirnya akan diperoleh informasi yang berkualitas.

1. Database
Data adalah fakta baik dalam bentuk angka-angka, hurup-hurup atau apapun yang dapat digunakan sebagai input dalam proses untuk menghasilkan informasi.
Fakta itu merupakan data atau bukan sangat ditentukan oleh informasi apa yang dibutuhkan. Fakta apapun yang tidak dapat diolah menjadi informasi tidak dapat dijadikan sebagai data.
Gambar 1 Hubungan antara peristiwa, data, dan informasi



Tabel 1 Menentukan data apa yang diperlukan berdasarkan informasi yang dibutuhkan.

Data mengemukakan ada tiga macam data sebagai berikut:
1. Input data adalah data yang dimasukan ke dalam sistem informasi.
2. Output data merupakan keluaran dari sistem informasi
3. Database merupakan kumpulan data-data yang tersimpan didalam media penyimpanan di suatu perusahaan (arti luas) atau di dalam komputer (arti sempit)
Beberapa contoh data yang biasa disimpan oleh perusahaan ada¬lah:
• Data produk
• Data rekening/accounf/Akun
• Data Pasien
• Data Mahasiswa
• Data transaksi

Database Adminstrastor (DBA)
Orang atau departemen yang bertanggung jawab dalam mengelola database disebut DBA (bagian DBA/Database administrator) yang memiliki tanggung jawab dalam:
• Mengelola database dan DBMS baik secara logis maupun secara phisik
• Ikut menentukan konfigurasi hardware dan software pendukung sistem informasi keseluruhan.
• Ikut menyusun kebijaksanaan dan standar untuk menghubungkan sistem informasi dan pemakai dari sistem informasi tersebut.
2 Media dan Sistem Penyimpanan Data
Data dalam sistem informasi manajemen berbasis komputer tersimpan dalam dua media penyimpanan, yaitu dalam media penyimpan utama (main storage media) dan media penyimpan kedua/tambahan/sekunder (secondary storage media). Media pe¬nyimpan utama umumnya bersifat volatile artinya akan hilang saat listrik sebagai sumber energi tidak ada. Masyarakat sering mengatakan media penyimpan utama ini sebagai memori contohnya RAM (random akses memori). Memori ini bisa digunakan untuk menampung data dan kemudian data tersebut bisa dimanipulasi serta diakses oleh pemakai komputer. Akan tetapi ada juga memori yang tidak hilang pada saat sumber energi untuk komputer dimatikan bahkan dafanya ti¬dak dapat dihapus misalnya ROM (read only memori) atau memo¬ri yang hanya dapat dibaca, sedang data yang ada didalamnya dimasukkan oleh pabrik. Jenis memori lainnya adalah EPROM (Erasable and programable memory) atau jenis ROM yang bisa dihapus dan diisi kembali.
Sedangkan untuk media penyimpanan data sekunder, dikenal ada dua macam media penyimpan, yaitu:
1. Media penyimpanan untuk menyimpan data secara berurutan (sequential). Melalui media ini record-record data akan dibaca dengan cara yang sama dengan saat penyimpanan. Sebagai contoh adalah pita magnetik (Magnetic tape).
2. Media penyimpanan secara langsung (direct) atau acak (random) yang memungkinkan pemakai (User) untuk membaca data dalam urutan yang diperlukan tanpa harus memperhatikan bagaimana penyusunannya secara phisik dari me¬dia penyimpanan data tersebut.

3 Sistem Pengolahan
Ada dua cara mengolah data yang biasa dilakukan dalam sistem manajemen data saat ini, yaitu pengolahan secara Batch dan pengolahan secara on-line.
3.1. Pengolahan Secara Batch
Pengolahan secara batch (mengumpulkan lebih dahulu) merupakan sistem pengolahan data transaksi dengan cara mengumpul¬kan terlebih dahulu data transaksi yang terjadi, kemudian pada waktu yang telah ditentukan data transaksi tersebut sekaligus di proses, biasanya sambil merevisi data.
3.2. Pengolahan Secara On-line
Pengolahan secara on-line (pengolahan langsung) merupakan sistem pengolahan data transaksi dimana setiap data yang masuk secara langsung satu persatu diolah. Pada saat yang bersamaan biasanya juga dilakukan proses untuk memperbaharui file master.
Gambar 8 Pengolahan secara On-line

Faktor-Faktor Yang Menentukan Jenis Pengolahan
Aplikasi perusahaan sangat menentukan sistem pengolahan apa yang akan dipakai. Jika saat terjadinya transaksi tidak perlu dilakukan pengolahan maka dapat dipilih sistem pengolahan secara batch. Untuk kebutuhan ini maka media penyimpanan yang dapat digunakan adalah pita magnetik atau piringan magnetik. Sistem informasi penggajian merupakan salah satu contoh aplikasi yang biasa menggunakan metode pengolahan secara batch.

Sistem Realtime
Sistem Realtime pada dasarnya mengacu kepada suatu respon yang diberikan oleh suatu sistem komputer (Sistem Informasi berbasis komputer), walaupun kita mungkin bisa menggunakannya untuk sistem yang lain. Suatu sistem informasi yang realtime digambarkan sebagai suatu sistem informasi yang bisa memberikan informasi kepada berbagai kepentingan seketika saat suatu kejadian/transaksi berlangsung. Sebagai contoh adalah kejadian saat terjadinya transaksi penjualan.

Sistem realtime merupakan salah satu implementasi dari sis¬tem pengolahan secara on-line. Sistem on-line menyediakan sumber daya konseptual yang mutakhir. Sistem realtime meningkatkan serta memperluas kemampuan sistem informasi dalam menghasilkan informasi melalui pemberdayaan perangkat hard¬ware yang optimal.


4 Organisasi Database
4.1. Organisasi Data pada Database Tradisional
Organisasi data pada database tradisional memiliki tujuan agar sistem Informasi yang efektif memberikan, kepada para pemakai sistem informasi, informasi yang akurat, relevan tepat waktu dan lengkap.

Berikut ini adalah contoh susunan hirarki data
Hirarki Data
Dalam konsep database, data memiliki tingkatan yang dikenal sebagai hirarki data yang terdiri dari Bit, Byte, Filed, Record, File, Database.
• Bit - adalah unit terkecil dari data. Bit ini menggambarkan sinyal 0 dan satu, dimana 0 berarti tidak ada arus listrik dan satu ada arus listrik.
• Byte - adalah kompulan dari bit-bit yang membentuk sebuah karakter
• Field/Elemen data (data element) - adalah kumpulan karakter-karakter yang membentuk suatu kata atau sekelompok kata/angka.
• Record - merupakan kumpulan dari field-field yang secara logika berhubungan.
• File - adalah kumpulan dari record-record yang berhubungan dengan suatu subyek tertentu.
• Database - adalah kumpulan dari data-data yang tersimpan dalam file-file

Tabel 6 Hirarki data dalam konsep database tradisional


Masalah pada organisasi data tradisional sebagai berikut :
• Data rangkap dan tidak konsisten
• Kesulitan dalam akses data
• Data terisolasi sulit diakses bersamaan
• Masalah keamanan
• Masalah integritas
Masalah masalah diatas sangat dominan pada sistem database tradisional. Dengan sistem database yang lebih maju (modern), sistem tersebut akan memberikan banyak keuntungan bagi sis¬tem informasi manajemen yang diantaranya adalah:
• Data yang berlebihan dapat dikurangi sehingga biaya penyimpanan dan waktu bisa diperkecil.
• Ketidak konsistenan data dapat dihindari sehingga data lebih mudah diakses dan informasi akan lebih akurat.
• Data dapat dipakai bersama sehingga setiap bagian akan memperoleh informasi yang sama .
• Standarisasi dapat dilakukan sehingga memudahkan dalam membaca dan memasukan data.
• Keamanan dapat diterapkan sehingga tingkat akurasi infor¬masi manajemen yang dihasilkan menjadi lebih tinggi
• Keterpaduan dapat dijaga sehingga meningkatkan integritas suatu sistem informasi.
• Konflik interest dapat diseimbangkan sehingga sistem infor¬masi bisa berjalan tanpa rintangan.

4.2. Organisasi Database Modern
Manajemen data dalam arti sempit menyatakan bahwa peru¬sahaan sudah mengelola date/informasi dengan baik bila sudah menggunakan atau menerapkan DBMS (Database Management System).
Manajemen data dalam arti luas menyatakan bahwa perusa¬haan sudah mengelola dafa/informasi dengan baik bila sudah menggunakan atau menerapkan IRM (Information resource management/Manajemen sumber daya informasi) yang komponennya meliputi hardware, software, brainware, prosedur, database dan jaringan komunikasi.

Dalam penjelasan berikut ini akan di uraikan mengenai konsep manajemen data :
Kegiatan Manajemen Data
- Mengumpulkan data
- Menjaga dan mengadakan pengujian terhadap integritas data-.
- Menyimpanan data.
- Memelihara data -.
- Mengamankan data Aktivitas ini merupakan upaya untuk menjaga agar data terihindar dari penghancuran, kerusakan, atau penyalahgunaan baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja.
- Mengorganisasikan data -.
- Mencari data -.

Sistem Database
Dalam database modern mulai dipakai konsep sistem. Data menyatakan bahwa sistem database pada dasarnya merupakan sis¬tem pencatatan dengan menggunakan komputer yang memiliki tujuan untuk memelihara informasi agar selalu siap pada saat di¬perlukan


Gambar 9 Diatas menunjukan bahwa sistem database seperti halnya sistem informasi manajemen memiliki beberapa komponen seperti:
- Data
- Hardware
- Software
- Pemakai

Karena sistem database merupakan bagian dari Sistem Informasi manajemen (SIM), maka komponen-komponen dalam sistem da¬tabase merupakan bagian dari komponen SIM.
Komponen Data
Data dalam database bisa tersimpan dalam :
- Komputer kecil (PC) - Biasanya untuk single user
- Komputer mini - Untuk multi user
- Komputer Mainframe - Untuk multi user
Secara umum dapat dikatakan bahwa data dalam sistem da¬tabase harus selalu terintegrasi (integrated) dan dapat diakses oleh siapa saja yang berhak (shared).
- Terintegrasi artinya database dapat dianggap sebagai perpaduan secara logis dari beberapa file data yang berbeda.
Tabel 12 File karyawan

- Terdistribusi maksudnya adalah bahwa setiap bagian dari da¬ta dalam database dapat memberikan distribusi (shared) kepada pemakai yang berbeda pada waktu yang sama sesuai dengan hak akses yang diberikan

Komponen Hardware
Bagian hardware dari sistem database meliputi:
Kepala (head) pembaca yang digunakan untuk mengambil dan membaca data bersamasama dengan bagian I/O (input output), controler, Kabel I/O, disk dan sebagainya.

Komponen Software
Antara database secara phisik (Date yang tersimpan dalam disk secara phisik) dan pemakai sistem informasi manajemen dibatasi oleh suatu software (Database manager) atau lebih umum dikenal sebagai Sistem Manajemen Database (DBMS). Semua kebutuhan pemakai untuk mengakses database ditangani oleh DBMS. DBMS juga dapat digunakan untuk menyusun suatu aplikasi sis¬tem informasi manajemen perusahaan yang siap pakai sehingga user tidak perlu lagi menghapalkan perintah-perintah seperti halnya dalam DBMS.
Komponen Pemakai
Dalam sistem database ini ada tiga kelas pemakai, yaitu :
1. Kelompok pertama adalah programer aplikasi yang bertanggung jawab dalam membuat program aplikasi yang menggunakan database
2. Kelompok kedua adalah pemakai (end user) yang berinteraksi dengan system melalui terminal komputer yang on-line
3. Kelompok ketiga adalah administrtor database (DBA)

Abstraksi Data
Abstraksi data digunakan dalam struktur database modern, didalamnya terdapat tiga level abstraksi yang dikenal sebagai: inter¬nal, konseptual dan eksternal seperti terlihat pada gambar dibawah ini.
1. Tingkat internal - Tingkat ini merupakan tingkat yang paling dekat dengan media penyimpanan secara phisik. Tingkat ini lebih menjelaskan secara detail bagaimana seharusnya data secara phisik disimpan dalam media penyimpanan.
2. Tingkat eksternal - Tingkat ini merupakan tingkat yang paling dekat kepada pemakai (user).Tingkat ini berhubungan dengan bagaimana data dipandang oleh pemakai.
3. Tingkat konseptual -Tingkat ini menggambarkan data apa yang sebenarnya disimpan dalam database dan hubungan yang terjadi diantara data-data. Disini keseluruhan database digambarkan dalam bentuk struktur yang relatif sederhana.


Table 14 Contoh tiga tingkat abstraksi data

Gambar 14 Tiga tingkat abstraksi data


Model data yang sering digunakan seperti diantara para pengembang sistem informasi manajemen misalnya:
1. Model Hirarki (Hierarchical data model) - Model data yang menggambarkan hubungan antara data berdasarkan kepada tingkatannya.
2. Model Network (Network data model) - Model data yang menggambarkan hubungan antar data berdasarkan kepentingannya.
3. Model Relasi (Relational data model) - Model data yang disusun berdasarkan kepada hubungan antar dua entitas (entity).

Model Hirarki
Gambar 15 Model data secara hirarki

Model data secara hirarki seperti gambar 15 diatas juga dikenal sebagai model pohon,
Model Network
Model Network merupakan perkembangan lebih lanjut dari model data secara hirarki. Pada model ini setiap file data dapat berhubungan dengan file-file data lainnya sesuai dengan kebutuhan manajemen suatu organisasi perusahaan. Gambar .16. Model data secara Network


Model Relasi
Model relasi didasarkan kepada persepsi tentang dunia nyata yang berisi sekumpulan objek-objek dasar yang disebut sebagai entitas (entity) dan hubungan antara entitas-entitas tersebut. Beberapa model digunakan untuk menggambarkan hubungan atau relasi antar entitas seperti:
1. Model relasi Peter Chen
2. Model relasi Martin
3. Model relasi Bachman
Entitas data(data entity) adalah apapun baik itu ada secara riel maupun abstrak yang akan disimpan datanya. Selanjutnya istilah yang akan digunakan adalah entitas (entity type). Nama entitas harus kata benda. Sinonimnya adalah entity type,entity class, dan object.
Entitas digambarkan sebagai kotak empat persegi panjang. Entitas pelanggan menyajikan semua karakter yang dapat mem


Kunci utama (Primari key) adalah calon kunci yang paling sering digunakan untuk mewakili sebuah entitas. Sehingga menjadi primari key. Candidate key yang tidak terpilih akan menjadi kunci alternatif (alternate key). Para programer sering memberi nama primary key sebagai kunci record.
Contoh Kunci utama :KODE PELANGGAN
Kunci alternatif :NAMA PELANGGAN
Kunci asing (Foreign key) adalah kunci utama suatu entitas yang menjadi atribut suatu entitas atau entitas lain.
Contoh :KODE PEMASOK dalam entitas Barang
Atribut kriteria(Subsettf/ig criteria) adalah atribut yang memiliki nilai pasti.

Contoh : Laki /perempuan
Atribut bernilai banyak (Multivalued attributes) adalah atri¬but yang memiliki lebih dari satu nilai untuk setiap /nsfancenya. Sebagai contoh misalnya atribut keahlian dalam entitas karyawan. Seorang karyawan mungkin punya lebih dari satu keah¬lian.

Hubungan antar data (Data relationship) adalah bentuk hubungan yang terjadi antara satu atau lebih entitas. Beberapa pakar lebih suka mengambarkan hubungan antar entitas sebagai aktivitas bisnis atau peristiwa yang menghubungkan satu atau lebih entitas. Untuk selanjutnya hubungan antara data/entitas akan disebut relasi (relationship) atau hubungan dengan menggunakan akar kata kerja atau phrase kata kerja.

Diagram arus data (Entity Relationship Diagram) pada gambar 18 dapat dibaca sebagai berikut:
1. Dengan cara membaca aktif, diagram tersebut diatas dibaca 'Pelanggan membuat Order, Order berisi Barang'
2. Dengan cara membaca pasif, diagram tersebut diatas dibaca 'Order dibuat oleh Pelanggan, Order diisi Barang'
Kata "buat, dan "isi" dalam relasi pada gambar 18 merupakan akar kata, sedangkan Mem, Ber dan Di merupakan imbuhan.
Diagram hubungan entitas tidak dibaca mengalir seperti dia¬gram arus data (Data Flow Diagram) akan tetapi diagram hubu¬ngan entitas ini harus dibaca dengan bayangan data dalam keadaan diam (tidak mengurut dan tidak bergerak). Karena itu untuk bi¬nary relationship sebaiknya dibaca per satu relasi (satu pasangan) seperti contoh pada gambar 18 kanan bawah

Gambar 18 Menulis dan membaca diagram hubungan entitas

Suatu entitas dapat bergubungan dengan entitas yang lain dalam berbagai tingkat hubungan, seperti pada gambar berikut ini.


Gambar 19 Tingkat hubungan satu ke satu dan satu ke banyak




Gambar 20 Tingkat hubungan banyak ke banyak dan banyak ke satu

Entity Relationship Diagram Model Peter Chen

Gambar 21 Model ERD Peter Chen awal

ERD menggambarkan data dalam keadaan diam, nama entity biasanya menggunakan kata benda sedangkan untuk relasi menggunakan akar kata dari kata kerja. Untuk menghindari kesulitan dalam member! nama relasi sering pula digunakan hurup 'R1 atau gabungan nama dari kedua entity yang berhubungan misalnya 'Pel_Ord' atau 'Order_ produk'
Perkembangan selanjutnya ada beberapa usulan sepeti tergambar pada diagram dibawah ini.
Gambar 22 Model ERD Peter Chen yang lain

Model lainnya yang juga banyak digunakan adalah model Martin. Model ini mengambil dasar dari model Peter Chen hanya disana sini ada beberapa perubahan seperti dalam menunjukan tingkat hubungan serta dalam menggambarkan relasi Martin lebih suka menggunakan relasi yang berfungsi sebagai entity (entitas)


Gambar 23 Model ERD Martin

Gambar 24 Model ERD Bachman


Soal
1. Apa yang dimaksud dengan database dan jelaskan pengertian database secara luas dan sempit ?
2. Coba jelaskan dan beri contoh tentang hirarki data ?
3. Sebutkan berbagai cara menentukan alamat record untuk menyimpan data ?
4. Jelaskan masalah dalam organisasi/susunan data tradisional
5. Sebutkan dan jelaskan kegiatan manajemen data dan organisasi dafanya ?
Tugas
1. Coba gambarkan dengan model hirarki data-data yang berhubungan dengan penjualan pada perusahaan dagang kebutuhan pokok (grosir).
2. Coba gambarkan dengan model network data-data yang berhubungan dengan perusahaan dagang obat-obatan seperti apotik/grosir obat.
3. Coba gambarkan dengan model relasi data-data penjualan pada perusahaan dagang onerdil mobil.
4. Mengapa dalam organisasi data tradisional data yang disimpan susah dibaca dan kurang aman ?
5. Mengapa sistem organisasi data modern dapat mengatasi sistem organisasi data tradisional ?

DATABASE

SOAL
1. Apa yang dimaksud dengan database dan jelaskan pengertian database secara luas dan sempit ?
Yang dimaksud dengan database adalah kumpulan data-data yang tersimpan didalam media penyimpanan di suatu perusahaan (arti luas) atau di dalam komputer (arti sempit)
Beberapa contoh data yang biasa disimpan oleh perusahaan ada¬lah:
 Data produk
 Data rekening/accounf/Akun
 Data Pasien
 Data Mahasiswa
 Data transaksi

2. Coba jelaskan dan beri contoh tentang hirarki data ?
Hirarki data adalah tingkatan data yang terdapat dalam database yang terdiri dari Bit, Byte, Filed, Record, File, Database.
 Bit - adalah unit terkecil dari data. Bit ini menggambarkan sinyal 0 dan satu, dimana 0 berarti tidak ada arus listrik dan satu ada arus listrik.
 Byte - adalah kumpulan dari bit-bit yang membentuk sebuah karakter
 Field/Elemen data (data element) - adalah kumpulan karakter-karakter yang membentuk suatu kata atau sekelompok kata/angka.
 Record - merupakan kumpulan dari field-field yang secara logika berhubungan.
 File - adalah kumpulan dari record-record yang berhubungan dengan suatu subyek tertentu.
 Database - adalah kumpulan dari data-data yang tersimpan dalam file-file



Hirarki data Contoh
Database File Jabatan File Alamat File Gaji

File File Jabatan
nama jabatan umur
Iman Deputy manager 40
Udin Asmen Deputy manager 35
Imanudin Supervisor 20

Record nama jabatan umur
Imanudin Supervisor 20

Field Saeful (nama pada sebuah field name)

Byte 01000000001( hurup A dalam ASCII )

Bit 0

3. Sebutkan berbagai cara menentukan alamat record untuk menyimpan data?
Data dalam sistem informasi manajemen berbasis komputer tersimpan dalam dua media penyimpanan, yaitu dalam media penyimpan utama (main storage media) dan media penyimpan kedua/tambahan/sekunder (secondary storage media). Media pe¬nyimpan utama umumnya bersifat volatile artinya akan hilang saat listrik sebagai sumber energi tidak ada. Masyarakat sering mengatakan media penyimpan utama ini sebagai memori contohnya RAM (random akses memori). Memori ini bisa digunakan untuk menampung data dan kemudian data tersebut bisa dimanipulasi serta diakses oleh pemakai komputer. Akan tetapi ada juga memori yang tidak hilang pada saat sumber energi untuk komputer dimatikan bahkan dafanya ti¬dak dapat dihapus misalnya ROM (read only memori) atau memo¬ri yang hanya dapat dibaca, sedang data yang ada didalamnya dimasukkan oleh pabrik. Jenis memori lainnya adalah EPROM (Erasable and programable memory) atau jenis ROM yang bisa dihapus dan diisi kembali.
Sedangkan untuk media penyimpanan data sekunder, dikenal ada dua macam media penyimpan, yaitu:
1. Media penyimpanan untuk menyimpan data secara berurutan (sequential). Melalui media ini record-record data akan dibaca dengan cara yang sama dengan saat penyimpanan. Sebagai contoh adalah pita magnetik (Magnetic tape).
2 . Media penyimpanan secara langsung (direct) atau acak (random) yang memungkinkan pemakai (User) untuk membaca data dalam urutan yang diperlukan tanpa harus memperhatikan bagaimana penyusunannya secara phisik dari me¬dia penyimpanan data tersebut.

4. Jelaskan masalah dalam organisasi/susunan data tradisional ?
Masalah pada organisasi data tradisional sebagai berikut :
 Data rangkap dan tidak konsisten
 Kesulitan dalam akses data
 Data terisolasi sulit diakses bersamaan
 Masalah keamanan
 Masalah integritas
Masalah masalah diatas sangat dominan pada sistem database tradisional. Dengan sistem database yang lebih maju (modern), sistem tersebut akan memberikan banyak keuntungan bagi sis¬tem informasi manajemen yang diantaranya adalah:
 Data yang berlebihan dapat dikurangi sehingga biaya penyimpanan dan waktu bisa diperkecil.
 Ketidak konsistenan data dapat dihindari sehingga data lebih mudah diakses dan informasi akan lebih akurat.
 Data dapat dipakai bersama sehingga setiap bagian akan memperoleh informasi yang sama .
 Standarisasi dapat dilakukan sehingga memudahkan dalam membaca dan memasukan data.
 Keamanan dapat diterapkan sehingga tingkat akurasi infor¬masi manajemen yang dihasilkan menjadi lebih tinggi
 Keterpaduan dapat dijaga sehingga meningkatkan integritas suatu sistem informasi.
 Konflik interest dapat diseimbangkan sehingga sistem infor¬masi bisa berjalan tanpa rintangan.
5. Sebutkan dan jelaskan kegiatan manajemen data dan organisasi datanya ?
Kegiatan manajemen data antara lain :
 Mengumpulkan data
 Menjaga dan mengadakan pengujian terhadap integritas data-.
 Menyimpanan data.
 Memelihara data -.
 Mengamankan data Aktivitas ini merupakan upaya untuk menjaga agar data terihindar dari penghancuran, kerusakan, atau penyalahgunaan baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja.
 Mengorganisasikan data -.
 Mencari data -.
Organisasi data dibagi menjadi dua yaitu database tradisionalan database modern
Organisasi data pada database tradisional memiliki tujuan agar sistem Informasi yang efektif memberikan, kepada para pemakai sistem informasi, informasi yang akurat, relevan tepat waktu dan lengkap.
Manajemen data dalam arti sempit menyatakan bahwa peru¬sahaan sudah mengelola date/informasi dengan baik bila sudah menggunakan atau menerapkan DBMS (Database Management System).
Manajemen data dalam arti luas menyatakan bahwa perusa¬haan sudah mengelola dafa/informasi dengan baik bila sudah menggunakan atau menerapkan IRM (Information resource management/Manajemen sumber daya informasi) yang komponennya meliputi hardware, software, brainware, prosedur, database dan jaringan komunikasi



TUGAS
1. Coba gambarkan dengan model hirarki data-data yang berhubungan dengan penjualan pada perusahaan dagang kebutuhan pokok (grosir) ?

2. Coba gambarkan dengan model network data-data yang berhubungan dengan perusahaan dagang obat-obatan seperti apotik/grosir obat.


3. Coba gambarkan dengan model relasi data-data penjualan pada perusahaan dagang onerdil mobil.


4. Mengapa dalam organisasi data tradisional data yang disimpan susah dibaca dan kurang aman ?
Karena dalam organisasi data tradisional mempunyai masalah :
 Data rangkap
 Ketidak konsistenan data
 Data terisolasi
 Data yang berlebihan
 Tingkat akurasi infor¬masi manajemen yang dihasilkan masih rendah
 Keterpaduan data masih kurang
 Konflik interest belum seimbang

5. Mengapa sistem organisasi data modern dapat mengatasi sistem organisasi data tradisional ?
 Data yang berlebihan dapat dikurangi sehingga biaya penyimpanan dan waktu bisa diperkecil.
 Ketidak konsistenan data dapat dihindari sehingga data lebih mudah diakses dan informasi akan lebih akurat.
 Data dapat dipakai bersama sehingga setiap bagian akan memperoleh informasi yang sama .
 Standarisasi dapat dilakukan sehingga memudahkan dalam membaca dan memasukan data.
 Keamanan dapat diterapkan sehingga tingkat akurasi infor¬masi manajemen yang dihasilkan menjadi lebih tinggi
 Keterpaduan dapat dijaga sehingga meningkatkan integritas suatu sistem informasi.
 Konflik interest dapat diseimbangkan sehingga sistem infor¬masi bisa berjalan tanpa rintangan.

Analisa Koordinasi OCR

Analisa Koordinasi OCR – Recloser Penyulang Kaliwungu 03 (Nugroho A.D., Susatyo H.)
ANALISA KOORDINASI OCR - RECLOSER
PENYULANG KALIWUNGU 03
Nugroho Agus Darmanto, Susatyo Handoko
nugroho@elektro.ft.undip.ac.id, susatyo@elektro.ft.undip.ac.id
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik., Universitas Diponegoro
Abstrak
Kelistrikan di Jawa Tengah menganut sistem
pentanahan langsung sepanjang jaringan (solidly
grounded common neutral), sehingga arus gangguan
yang terjadi sangat besar, maka perluasan atau
pelimpahan beban dari penyulang lain harus
mempertimbangkan jangkauan pengindera peralatan
pengaman dan mengkoordinasikan antara pengaman
yang satu dengan yang lain, koordinasi system
proteksi berperan sangat penting untuk menjamin
keandalan sistem penyaluran tenaga listrik.
Dengan menganalisa besar arus gangguan yang
dapat terjadi dan memperhatikan karakteristik serta
pola setting peralatan pengaman terpasang,
diharapkan dapat diketahui tingkat keandalan
penyulang Kaliwungu 03 (KLU03) dalam kondisi
normal atau saat menerima pelimpahan beban dari
penyulang Weleri 06 (WLI06).
Dari analisa diketahui bahwa dengan besar arus
gangguan minimum yang terjadi masih lebih besar
dibanding dengan setting OCR dan Recloser, maka
dapat disimpulkan peralatan pengaman penyulang
Kaliwungu 03 dapat mengakomodir pelimpahan
beban dari penyulang Weleri 06, namun untuk
keandalan perlu dievaluasi kembali setting OCR dan
Recloser khususnya tentang pemilihan karakteristik
dan konstanta waktu tunda.
I. PENDAHULUAN
Kebutuhan energi listrik wilayah kota Kendal
disuplai dari GI. (Gardu Induk) Kaliwungu Trafo I
penyulang Kaliwungu 03 (KLU03) dan dari GI.
Weleri Trafo II penyulang Weleri 06 (WLR06), yang
mana dalam kondisi operasi normal kedua penyulang
tersebut dipisahkan oleh ABSW (Air Break Switch)
pada posisi buka/NO (Normaly Open). Titik posisi
NO tidak selalu pada ABSW tertentu saja, namun
bisa dipindah ke ABSW lain yang sebelumnya pada
posisi tutup/NC (Normaly Close) yang berada pada
batas pembagi / seksi atau zone, pemindahan titik
ABSW NO ini dengan mempertimbangkan regulasi
beban antara kedua penyulang yang disesuaikan
dengan kemampuan / kapasitas dari masing-masing
penyulang.
Pada kondisi tertentu untuk keperluan
pemeliharaan atau perbaikan peralatan disuatu seksi
diperlukan manuver (pelimpahan) beban dari
penyulang satu ke penyulang yang lainnya, untuk
meminimalkan daerah padam. Kondisi yang sifatnya
hanya sementara ini tetap harus diperhitungkan
koordinasi pengamannya, sehingga apabila terjadi
gangguan dimanapun titiknya, kinerja pengaman
jaringan akan tetap memenuhi
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk
menyajikan analisa teknis keandalan kelistrikan
penyulang Kaliwungu 3 (KLU03) dari gardu induk
Kaliwungu, yang dalam kondisi normal melayani
wilayah kota Kendal secara radial, dan dalam kondisi
tertentu (manuver beban bersifat sementara) harus
memikul beban dari penyulang Weleri 6 (WLR06),
maka diperlukan pembahasan koordinasi peralatan
pengaman, sehingga keandalan sistem penyaluran
tenaga listrik dapat lebih terjamin secara optimal
dengan tetap berpedoman pada desain kriteria dari
masing-masing peralatan.
II. SISTEM DISTRIBUSI TENAGA
LISTRIK
2.1.Sistem Kelistrikan di Jawa Tengah
Karena berbagai persoalan teknis, tenaga listrik
hanya dibangkitkan pada tempat-tempat tertentu.
Sedangkan pelanggan tenaga listrik tersebar di
berbagai tempat, maka penyampaian tenaga listrik
dari tempat dibangkitkan sampai ke tempat
pelanggan memerlukan jaringan. Tenaga listrik
dibangkitkan dari PLTA, PLTU, PLTG, PLTP dan
PLTD kemudian disalurkan melalui saluran
transmisi setelah terlebih dahulu dinaikkan
tegangannya oleh transformator penaik tegangan
(step up transformer) yang ada di Pusat Listrik. Hal
ini digambarkan oleh Gambar 2.1.
15
Transmisi, Vol. 11, No. 1, Juni 2006 : 15 - 21
Gambar 1 Skema Sistem Tenaga Listrik
2.2.Struktur Jaringan Tegangan Menengah.
Struktur jaringan tegangan menengah yang ada
bila dikelompokkan terdiri dari lima model, yaitu :
a. Jaringan radial.
b. Jaringan hantaran penghubung (Tie Line).
c. Jaringan lingkaran (loop).
d. Jaringan Spindel
e. Sistem gugus atau sistem kluster.
II.3.Sistem Pentanahan Jaringan Distribusi di
Indonesia
Pentanahan titik netral sistem adalah hubungan
titik netral dengan tanah, baik langsung maupun
melalui tahanan reaktansi ataupun kumparan
Petersen. Di Indonesia sistem pentanahan meliputi
empat macam, yaitu :
a. Pentanahan mengambang (tidak ditanahkan).
b. Pentanahan dengan tahanan.
c. Pentanahan dengan kumparan Petersen.
d. Pentanahan langsung (Solid)
Sistem kelistrikan pada PLN Distribusi Jawa Tengah
adalah menggunakan tiga fasa empat kawat dengan
pentanahan netral secara langsung atau sesuai SPLN
12 : 1978 (Pola 2)
Gambar 2 Sistem pentanahan langsung 3 fasa 4 kawat
Pada sistem ini (pola 2) mempunyai spesifikasi
sebagai berikut :
a. Sistem jaringan :
· Tegangan nominal 20 kV (antar fasa)
· Sistem pentanahan dengan netral
ditanahkan langsung sepanjang jaringan.
· Kawat netral dipakai bersama untuk
saluran tegangan menengah dan saluran
tegangan rendah dibawahnya.
· Konstruksi jaringan terdiri dari saluran
udara terutama dan saluran kabel, sedang
saluran udara terdiri dari :
Saluran utama terdiri dari kawat fasa 3 x
AAAC 240 mm² dan kawat netral 1 x
120 mm²
Saluran cabang terdiri dari jaringan 3
fasa atau 1 fasa (2 kawat, untuk fasa &
netral) dengan ukuran disesuaikan
dengan perencanaan beban.
· Sistem pelayanan radial dengan
kemungkinan antara saluran utama yang
berbeda penyulang dapat saling dihubungkan
dalam keadaan darurat.
· Pelayanan beban dapat dilayani dengan :
Tiga fasa, 4 kawat dengan tegangan 20
kV antar fasa , dan
Fasa tunggal, 2 kawat dengan tegangan
20/Ö3 kV
b. Sistem Pengamanan
Sistem pengamanan jaringan dilakukan dengan
perencanaan koordinasi sebagai berikut :
· Pemutus Tenaga (PMT), dengan
pengindera OCR dab GRF.
· Recloser, dengan pengindera OCR (Over
Current Relay).
· Sectionaliser, dengan pengindera jumlah
tegangan hilang / CTO (Count To Open)
· FCO, dengan fuse pelebur untuk pemutus
rangkaian akibat hubung singkat karena
gangguan atau beban lebih.
c. Keistimewaan dari sistem 3 fasa 4 kawat.
Sistem ini pendekatannya didasari dari jarak
antara beban relatif jauh dan kepadatan
beban rendah. Sistem ini juga lebih sesuai
untuk daerah yang tahanan spesifik tanahnya
relatif tinggi.
Pada sistem ini kawat netral diusahakan
sebanyak mungkin dan merata ditanahkan.
kawat netral JTM dan JTR dihubungkan dan
dipakai bersama, dimana pentanahannya
dilakukan sepanjang JTM, JTR dan
dihubungkan pula pada pentanahan TR dari
tiap instalasi konsuman.
Sistem pelayanan JTM terutama
menggunakan jaringan 1 fasa yang terdiri
dari kawat fasa dan netral, sehingga
16
Analisa Koordinasi OCR – Recloser Penyulang Kaliwungu 03 (Nugroho A.D., Susatyo H.)
memungkinkan penggunaan trafo-trafo kecil
1 fasa yang sesuai bagi beban-beban kecil
yang berjauhan letaknya.
Dengan adanya tahanan netral yang sangat
kecil mendekati nol, maka arus hubung tanah
menjadi relatif besar dan berbanding terbalik
dengan letak gangguan tanah sehingga perlu
dan dapat digunakan alat pengaman yang
dapat bekerja cepat dan dapat memanfaatkan
alat pengindera (relay) dengan karakteristik
waktu terbalik (invers time).
Keuntungan lain dari arus gangguan fasa
tanah yang besar adalah dapat dilakukannya
koordinasi antara PMT dan relay arus lebih
atau recloser dengan pengaman lebur atau
antara recloser dengan automatic
sectionalizer secara baik.
Pada percabangan beban atau tapping 1 fasa
dapat digunakan pengaman fasa tunggal
yang lebih selectif.
2.4.Keandalan Sistem Distribusi
Keandalan system penyaluran distribusi tenaga
listrik tergantung pada model susunan saluran,
pengaturan operasi dan pemeliharaan serta
koordinasi peralatan pengaman. Tingkat kontinuitas
dibagi antara lain :
· Tingkat 1 : padam berjam-jam
· Tingkat 2 : padam beberapa jam
· Tingkat 3 : padam beberapa menit
· Tingkat 4 : padam beberapa detik
· Tingkat 5 : tanpa padam
Keandalan dari suatu sistem adalah kebalikan dari
besarnya jam pemutusan pelayanan, jam pemutusan
pelayanan dapat dihitung berdasarka jumlah
konsumen atau jumlah daya yang padam (diputus)
2.5.Macam-macam gangguan dan akibatnya
a. Gangguan beban lebih.
b. Gangguan hubung singkat.
c. Gangguan tegangan lebih
d. Gangguan hilangnya Pembangkit
e. Gangguan Instability
2.6.Cara mengatasi gangguan
a. Mengurangi terjadinya gangguan
b. Mengurangi akibat gangguan
2.7. .Impedansi Jaringan Distribusi
Pada sistem distribusi tenaga listrik impedansi yang
menentukan besarnya arus hubung singkat, adalah :
Impedansi sumber
Impedansi transformator tenaga
Impedansi hantaran/jaringan
Impedansi gangguan atau titik hubung
singkat
2.8.Komponen Simetris.
Komponen simetris lazim digunakan dalam
menganalisa gangguan-gangguan yang tidak simetris
didalam suatu sistim kelistrikan.
a. Sistem Tenaga Listrik Tiga Fasa
Ketiga sistem simetris yang merupakan hasil
uraian komponen simetris dikenal dengan nama :
· Komponen urutan positif
· Komponen urutan negatif
· Komponen urutan nol
Dari komponen vektor yang tidak seimbang dapat
diuraikan menjadi komponen-komponen simetris
Gambar 3 Diagram komponen simetris
b. Operator Vektor “ a ”
Pada penggunaan komponen simetris sistem 3
fasa memerlukan suatu fasor atau operator yang akan
memutar rotasi dengan vektor lainnya yang berbeda
sudut 120°. Operator yang dipakai vektor satuan
adalah “a”. Didefinisikan bahwa :
17
Transmisi, Vol. 11, No. 1, Juni 2006 : 15 - 21
Gambar 4 Vektor scalar “ a “
2.9. Teori Hubung Singkat
a. Arus hubung singkat 3 fasa
b. Arus hubung singkat 2 fasa
c. Arus hubung singkat 1 fasa
maka, dapat dihitung
III. SISTEM PENGAMAN PADA SUTM 20
kV 3 FASA 4 KAWAT
3.1.Pemutus Tenaga
Pemutus Tenaga (PMT) adalah alat pemutus
otomatis yang mampu memutus/menutup rangkaian
pada semua kondisi, yaitu pada kondisi normal
ataupun gangguan.
Secara singkat tugas pokok pemutus tenaga adalah :
· Keadaan normal, membuka / menutup
rangkaian listrik.
· Keadaan tidak normal, dengan bantuan
relay, PMT dapat membuka sehingga
gangguan dapat dihilangkan.
3.2. Relay Arus Lebih (OCR)
Relay arus lebih adalah relay yang bekerja terhadap
arus lebih, ia akan bekerja bila arus yang mengalir
melebihi nilai settingnya ( I set ).
a. Prinsip Kerja
Pada dasarnya relay arus lebih adalah suatu alat yang
mendeteksi besaran arus yang melalui suatu jaringan
dengan bantuan trafo arus. Harga atau besaran yang
boleh melewatinya disebut dengan setting.
Macam-macam karakteristik relay arus lebih :
a. Relay waktu seketika (Instantaneous relay)
b. Relay arus lebih waktu tertentu (Definite
time relay)
c. Relay arus lebih waktu terbalik
b. Relay Waktu Seketika (Instantaneous relay)
Relay yang bekerja seketika (tanpa waktu tunda)
ketika arus yang mengalir melebihi nilai settingnya,
relay akan bekerja dalam waktu beberapa mili detik
(10 – 20 ms). Dapat kita lihat pada gambar 5.
dibawah ini.
Gambar 5 Karakteristik relay waktu seketika
Relay ini jarang berdiri sendiri tetapi umumnya
dikombinasikan dengan relay arus lebih dengan
karakteristik yang lain.
c. Relay arus lebih waktu tertentu (deafinite time
relay)
Relay ini akan memberikan perintah pada PMT pada
saat terjadi gangguan hubung singkat dan besarnya
arus gangguan melampaui settingnya (Is), dan jangka
waktu kerja relay mulai pick up sampai kerja relay
diperpanjang dengan waktu tertentu tidak tergantung
besarnya arus yang mengerjakan relay, lihat gambar
6. dibawah ini.
18
Analisa Koordinasi OCR – Recloser Penyulang Kaliwungu 03 (Nugroho A.D., Susatyo H.)
Gambar 6 Karakteristik relay waktu definite
d. Relay arus lebih waktu terbalik.
Relay ini akan bekerja dengan waktu tunda yang
tergantung dari besarnya arus secara terbalik (inverse
time), makin besar arus makin kecil waktu tundanya.
Karakteristik ini bermacam-macam. Setiap pabrik
dapat membuat karakteristik yang berbeda-beda,
karakteristik waktunya dibedakan dalam tiga
kelompok :
Standar invers
Very inverse
extreemely inverse
Gambar 7 Karakteristik relay waktu Inverse
Pada relay arus lebih memiliki 2 jenis pengamanan
yang berbeda antara lain:
· Pengamanan hubung singkat fasa
Relay mendeteksi arus fasa. Oleh karena itu,
disebut pula “Relay fasa”. Karena pada relay
tersebut dialiri oleh arus fasa, maka settingnya
(Is) harus lebih besar dari arus beban maksimum.
Ditetapkan Is = 1,2 x In (In = arus nominal
peralatan terlemah).
· Pengamanan hubung tanah
Arus gangguan satu fasa tanah ada
kemungkinan lebih kecil dari arus beban, ini
disebabkan karena salah satu atau dari kedua hal
berikut:
Gangguan tanah ini melalui tahanan
gangguan yang masih cukup tinggi.
Pentanahan netral sistemnya melalui
impedansi/tahanan yang tinggi, atau
bahkan tidak ditanahkan
Dalam hal demikian, relay pegaman hubung
singkat (relay fasa) tidak dapat mendeteksi
gangguan tanah tersebut. Supaya relay sensitive
terhadap gangguan tersebut dan tidak salah kerja
oleh arus beban, maka relay dipasang tidak pada
kawat fasa melainkan kawat netral pada
sekunder trafo arusnya.
Dengan demikian relay ini dialiri oleh arus
netralnya, berdasarkan komponen simetrisnya
arus netral adalah jumlah dari arus ketiga
fasanya.
Arus urutan nol dirangkaian primernya baru
dapat mengalir jika terdapat jalan kembali
melalui tanah (melalui kawat netral)
Gambar 8 Sambungan relay GFR dan 2 OCR
3.3.Pemutus Balik Otomatis (Recloser)
Pemutus balik otomatis (Automatic circuit
recloser = Recloser) ini secara fisik mempunyai
kemampuan seperti pemutus beban, yang dapat
bekerja secara otomatis untuk mengamankan sistem
dari arus lebih yang diakibatkan adanya gangguan
hubung singkat.
3.4.Saklar seksi Otomatis (sectionaliser)
Sectionaliser adalah alat perlindungan terhadap
arus lebih, hanya dipasang bersama-sama dengan
PBO yang berfungsi sebagai pengaman back-upnya.
Alat ini menghitung jumlah operasi pemutusan yang
dilakukan oleh perlindungan back-upnya secara
otomatis disisi hulu dan SSO ini membuka pada saat
peralatan pengaman disisi hulunya sedang dalam
posisi terbuka.
3.5.Pelebur (fuse cut out)
Adalah suatu alat pemutus, dimana dengan
meleburnya bagian dari komponen yang telah
dirancang khusus dan disesuaiakan ukurannya untuk
membuka rangkaian dimana pelebur tersebut
dipasang dan memutuskan arus bila arus tersebut
melebihi suatu nilai dalam waktu tertentu. Oleh
karena pelebur ditujukan untuk menghilangkan
gangguan permanen, maka pelebur dirancang
meleleh pada waktu tertentu pada nilai arus
gangguan tertentu.
3.6. Koordinasi Peralatan Pengaman SUTM 20
kV
Pada dasarnya prinsip pokok dari koordinasi adalah
:
19
Transmisi, Vol. 11, No. 1, Juni 2006 : 15 - 21
a. Peralatan pengaman pada sisi beban harus dapat
menghilangkan gangguan menetap atau
sementara yang terjadi pada saluran, sebelum
peralatan pengaman di sisi sumber beroperasi
memutuskan saluran sesaat atau membuka terus.
b. Pemadaman yang terjadi akibat adanya
gangguan menetap harus dibatasi sampai pada
seksi sekecil mungkin.
IV. PERHITUNGAN ARUS GANGGUAN DAN
ANALISIS KOORDINASI PERALATAN
PENGAMAN
4.1. Data-data Pengusahaan :
I hs 3Φtt : 17.856,96 Ampere
Kapasitas trf : 60 MVA
Impedansi Trafo : 12,5 %
Impedansi JTM 3 Φ : Z1 = Z2 = 0,134 + j0,308
Z0 = 0,413 + j0,949
Impedansi JTM 1 fasa Z1f = 1,623 + j0,746
Gambar 9 Diagram Komponen Arus Gangguan
4.2. Perhitungan dan analisis
Impedansi trafo :
Menghitung MVA hs tt, bila diketahui I hs3Φtt
MVA hs tt = I hs3Φ tt Ztr Ö3 kV1 / 103
Arus gangguan maximum adalah yang terjadi pada
dekat rel 20 kV GI.
Arus gangguan yang terjadi pada ujung jaringan
SUTM (JTM) adalah merupakan arus hubung
singkat minimum, rumus perhitungan sebagai
berikut :
4.3. Setting arus OCR
Peralatan dengan arus nominal terendah adalah CT,
dengan In = 400 Ampere.
Is ocr = 1,2 x In CT = 480 Ampere
Setting waktu tunda relay OCR untuk penyulang
dipilih karakteristik Very Inverse, dengan rumus
td vi = k.b/((Ihs /Is ocr )^a)-1.
dimana : (k) = 0,1 b = 13,5 dan a = 1.
Tabel 1 Perhitungan waktu tunda OCR
x I s OCR I hs td (detik)
100% 480
100% +1 481 648,000
200% 960 1,350
300% 1.440 0,675
400% 1.920 0,450
500% 2.400 0,338
600% 2.880 0,270
700% 3.360 0,225
800% 3.840 0,193
900% 4.320 0,169
1000% 4.800 0,150
I hs max 12.326 0,055
20
Analisa Koordinasi OCR – Recloser Penyulang Kaliwungu 03 (Nugroho A.D., Susatyo H.)
Gambar 10 Kurva OCR Inverse
4.4. Setting GFR
Setting GFR pada penyulang : 0,5 x In CT
: 200 Ampere
Setting waktu tunda relay GFR dipilih karakteristik
Standar Inverse, dengan rumus waktu tunda, berikut
:
tdsi = k.b/((Ihs /Is ocr )^a)-1.
Tabel 2 Perhitungan waktu tunda OCR dan GFR
x I s GFR I hs tdGFR (detik) tdOCR (detik)
100% 200
100% +1 201
200% 400 2,006
300% 600 1,260 5,400
400% 800 0,996 2,025
500% 1.000 0,856 1,246
600% 1.200 0,767 0,900
700% 1.400 0,706 0,704
800% 1.600 0,659 0,579
900% 1.800 0,623 0,491
1000% 2.000 0,594 0,426
I hs max 12.326 0,326 0,055
Relay GFR juga dikombinasi dengan setting waktu
tunda definite (waktu tunda tertentu), yang mana
pemilihannya ditetapkan 1 detik.
Gambar 11 Waktu kerja OCR dan GFR
4.5. Setting arus momen (Im)
Setting arus momen ( Im ) yang akan bekerja
tanpa tunda waktu, penetapannya sebagai berikut :
· Setting arus momen OCR = 400 % x In
terendah
· Setting arus momen GFR = 600 % x In
terendah
4.6. Koordinasi OCR dengan PBO1
Dengan beban tertinggi pada PBO1 sebesar 250
ampere, maka ditetapkan I sett PBO1 adalah 320
Ampere
Gambar 12 Karakteristik waktu kerja OCR dan PBO1
4.7. Koordinasi OCR, PBO 1 dan PBO 2a
Beban tertinggi pada PBO 2a adalah sebesar 88
Ampere, maka setting arus pada PBO 2a ditetapkan
200 Ampere
Gambar 13 Koordinasi OCR, PBO1, dan PBO2a
4.8. Koordinasi OCR, PBO 1 dan PBO 2b
Beban tertinggi pada PBO 2a adalah sebesar 40
Ampere, maka setting arus pada PBO 2a ditetapkan
140 Ampere
21
Transmisi, Vol. 11, No. 1, Juni 2006 : 15 - 21
Karakteristik td antara OCR, PBO1
dan
PBO 2b
0,000
0,500
1,000
1,500
2,000
280 420 560 700 840 980 1.120 1.260 1.400
Arus gangguan
Waktu
td OCR
td PBO1
td PBO2b
Gambar 14 Karakteristik td OCR, PBO1, dan PBO2b
V. KESIMPULAN
1. Besar arus gangguan pada sistem 3 fasa 4
kawat memberikan keuntungan koordinasi
atara peralatan pengaman yang satu dengan
yang lain dengan baik.
2. Perbedaan mendasar dari perhitungan arus
gangguan maksimum dengan minimum
adalah besar impedansi jaringan Z1, Z2 dan
Z0, dimana pada arus gangguan maksimum
yang terjadi dekat gardu induk, nilai
impedansi jaringan mendekati nol, dan pada
arus gangguan minimum nilai impedansi
jaringan sesuai nilai impedansi pada titik
lokasi gangguan (≠ 0). Rumus perhitungan
yang digunakan untuk kedua kondisi pada
dasarnya sama.
3. Jangkauan relay sangat dipengaruhi besar
kecilnya arus hubung singkat, sedangkan
besar arus hubung singkat dipengaruhi :
a. Jumlah pembangkit yang masuk ke
sistem jaringan.
b. Kapasitas dan impedansi trafo
c. Titik gangguan atau panjang jaringan.
4. Peralatan Pengaman pada penyulang KLU-
03 masih bisa menjangkau (melakukan
penginderaan) pada saat menerima
pelimpahan beban dari penyulang WLI-06.
DAFTAR PUSTAKA
1. Hadi Saadat, Power system analysis, WCB
McGraw Hill, 1999.
2. IEEE Power Engineering Society, Aplication
and coordination of recloser, sectionalizer and
fuse, New york, 1980.
3. Komari Ir., Pembumian titik netral, PT PLN
(Persero), Udiklat Teknologi Kelistrikan.
4. Pribadi Kadarisman Ir., Pengaman Arus lebih,
Udiklat Teknologi Kelistrikan.
5. SPLN 64 : 1985, Petunjuk pemilihan dan
penggunaan pelebur pada sistem distribusi
tegangan menengah.
6. SPLN 52 – 3 : 1983, Pola pengaman sistem
7. Soemarto Soedirman Ir., Pembumian dan
proteksi sistem distribusi, Udiklat Teknologi
Kelistrikan.
8. Sunil S. Rao, Switchgear and protection, Khanna
Publishers, Delhi, 1978.
22

SIKLUS PLTG

Siklus PLTG
Setelah menulis tentang PLTU, kurang afdol rasanya jika nggak nulis juga tentang PLTGU. Di Unit Pembangkitan Muara Karang, kami mengoperasikan 2 jenis pembangkit, PLTU dan PLTGU. Makanya kalau cuman salah satu yang dibahas, nanti yang satunya berasa jadi anak tiri. Apalagi mas Ali Lutfi, salah satu rekanku di staf enjinering, sudah berkomentar, “Sur, jangan cuma siklus PLTU dong yang ditulis, PLTGU juga.”
“Oke mas. Tapi ajarin aku dulu. Aku dulu kan jadi operator Cuma di PLTU. Keliling unit dulu terus ajarin aku pelan-pelan ya. Aku akan orang awam akan unit pembangkit, he he he.”
Dan setelah berguru selama beberapa waktu, akhirnya jadi juga tulisan tentang PLTGU. Oh iya, sebelum naik blog, tulisan ini sudah melalui proses editor dari pakar unit pembangkitan langsung lho.
PLTGU sebenarnya adalah gabungan dua jenis pembangkit, yakni PLTG dan PLTU. Bagaimana cara kerja selengkapnya?
Pertama-tama kita bahas dulu tentang PLTG.
Dari singkatannya, sudah jelas, PLTG adalah Pembangkit Listrik Tenaga Gas. Nah sebelum kita lanjut tentang siklus dan yang lainnya, perlu ada penjelasan di awal karena banyak salah persepsi tentang apa yang dimaksud “gas” disini. Banyak orang mengira PLTG adalah Pembangkit Listrik yang bahan bakarnya adalah gas. Bahkan beberapa teman PJB yang nyata-nyata berasal dari Teknik Mesin dan Elektro juga berpendapat demikian sebelum masuk PJB. Tentu saja gas disini maksudnya merujuk pada gas alam. Benarkah?
Tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Disini perlu dijelaskan bahwa salah besar jika menyebut jenis sebuah pembangkit listrik berdasarkan pada bahan bakarnya. Pada pembangkit, dua komponen yang paling utama dalam menghasilkan listrik adalah dua, mesin penggerak (biasanya berupa turbin atau motor pada pembangkit diesel) dan generator. Di semua jenis pembangkit listrik mulai dari PLTU, PLTA, PLTG, PLTP, PLT Angin, PLT Matahari, dll mempunyai turbin dan generator. Generator adalah penghasil listrik. Generator menghasilkan listrik karena berputar sehingga menghasilkan beda potensial pada medan magnetnya. Generator berputar karena Turbin berputar. Turbin dan generator adalah dua benda dengan satu poros yang sama, jadi jika turbin berputar otomatis generator berputar. Pertanyaan paling akhir, Apa yang membuat turbin berputar? Nah itu tergantung jenis pembangkit. Kalau PLTU ya berarti yang memutar turbin adalah uap. Kalau PLTA ya berarti air. Kalau PLT Angin ya berarti angin. Nah kalau PLTG ya berarti gas.
Lho berarti jawaban tadi mutlak betul dong. Kan jelas-jelas yang menggerakkan turbin PLTG adalah gas.
Oke, ini penjelasannya. Gas yang dimaksud disini, yang memutar turbin PLTG bukanlah murni gas alam, melainkan gas hasil sebuah proses pembakaran. Perlu diketahui, bahan bakar PLTG tidak hanya gas alam saja, tetapi bisa menggunakan BBM misalnya HSD (High Speed Diesel) ataupun MFO (Marine Fuel Oil). Lho kok bisa? Penjelasan lebih lengkap ada pada siklus PLTG dibawah ini.
Siklus PLTG dimulai dari pengambilan udara oleh compressor. Dalam compressor ini udara diolah sehingga tekanannya naik. Udara ini dimasukkan kedalam Combustion atau ruang bakar bersama dengan bahan bakar (gas / bbm). Pembakaran menghasilkan gas bertekanan dan bersuhu tinggi (Suhu sekitar 2000 derajat celcius). Gas bertekanan inilah yang memutar turbin gas (Nah sudah jelaskan, apa yg dimaksud dengan “gas”). Turbin berputar, generator ikut berputar dan listrik pun dihasilakn. Setelah memutar turbin, gas tersebut dibuang di atmosfer. Siklus selesai.
Sesederhana ini? Ya, siklus PLTG memang sederhana. Selain sederhana, satu unit PLTG juga tidak memakan tempat terlalu luas. Proses pembangunannya juga relatif lebih cepat daripada unit pembangkit lain. Biaya pembangunannya pun relatif juga lebih murah. Hanya saja karena bekerja pada suhu dan tekanan tinggi, komponen-komponen dari PLTG yang disebut Hot Parts menjadi cepat rusak sehingga memerlukan perhatian yang serius. Belum lagi hot parts tersebut kebanyakan berharga sangat mahal sehingga biaya pemeliharaan PLTG sangat besar.
Kembali pada siklus PLTG, siklus PLTG yang seperti ini sering disebut Open Cycle. Gas hasil pembakaran, masuk turbin, lalu dibuang. Suhu dan tekanan gas yang dibuang biasanya masih cukup tinggi. Berkisar antara 500 derajat celcius sehingga sebenarnya sayang jika langsung dibuang. Harusnya gas sepanas itu bisa untuk menguapkan air, lalu uapnya bisa digunakan untuk memutar turbin. Nah, atas pemikiran seperti itulah, muncul yang namanya PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap).
Nah sekarang saatnya berbicara tentang siklus PLTGU.
Siklus kerja awal sama seperti PLTG. Udara masuk melalui compressor. Tekanan dan suhunya dinaikkan, lalu dibakar bersama bahan bakar. Gas hasil pembakaran ini digunakan untuk memutar turbin. Setelah memutar turbin, gas buang ini masuk pada sebuah unit yang disebut HRSG (Heat Recovery Steam Generator). Pada PLTU, fungsi HRSG ini hampir sama dengan boiler. Hanya saja jika boiler terjadi proses pembakaran secara langsung, sedangkan pada HRSG yang terjadi hanya proses perpindahan panas memanfaatkan gas buang. Dari HRSG dihasilkan uap kering yang akan memutar turbin uap. Setelah memutar turbin, uap air diembunkan oleh kondensor dan masuk kembali ke hotwell.
Siklus kerja PLTGU seperti diatas sering juga disebut Combined Cycle. Dengan PLTGU maka biaya produksi listrik menjadi efisien. Tanpa perlu mengeluarkan biaya bahan bakar lagi, unit ini sanggup untuk menghasilkan listrik lagi. Nilai produksinya pun cukup besar. Daya maksimal yang bisa dihasilkan dari pemanfaatan gas buang ini bisa mencapai 60 % dari daya yang dihasilkan oleh turbin gas. Jadi permisalan, jika gas turbin menghasilkan listrik 100 MW, maka gas buang yang dimanfaatkan tadi bisa memproduksi listrik tambahan melalui turbin uap sebanyak 60 MW. Sungguh sangat efisien bukan?
PLTGU Muara Karang sendiri mengoperasikan PLTGU 1 blok yang terdiri dari 3 PLTG, 3 HRSG dan 1 Turbin Uap dengan kapasitas terpasang sekitar 500 MW. Masing-masing 108 MW untuk tiap-tiap PLTG (jadi total 324 MW) dan 180 MW untuk PLTU.
Ya mungkin cukup sekian dulu sesuatu yang bisa aku sharing tentang siklus PLTGU. Semoga artikel ini bermanfaat, menarik dan penjelasannya mudah untuk dipahami. Kebutuhan akan energi listrik yang semakin meningkat di masa mendatang membuat harga listrik pasti akan semakin tinggi. Apalagi bbm, bbg maupun batubara harganya juga terus melonjak. Semoga dengan adanya artikel-artikel tentang energi listrik bisa memberikan inspirasi untuk berhemat maupun pemanfaatan energi alternatif

PEMBANGKITAN TANAGA LISTRIK

Dalam bisnis kelistrikan, komponen yang mendukung ketersediaan listrik sampai dapat dinikmati oleh pelanggan adalah sebagai berikut :
1. Pembangkit adalah Mesin yang memproduksi tenaga listrik. Beberapa jenis pembangkit diantaranya :
o PLTU : Pembangkit Listrik Tenaga Uap dengan bahan bakar minyak(MFO), gas alam dan batubara
o PLTG : Pembangkit Listrik Tenaga Gas dengan bahan bakar minyak(HSD) dan gas alam
o PLTGU : Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap dengan bahan bakar minyak (HSD) dan Gas alam
o PLTP : Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi dengan energi primer uap panas bumi
o PLTD : Pusat Listrik Tenaga Diesel dengan energi primer Minyak (MFO atau HSD)
o PLTA : Pembangkit Listrik Tenaga Air
o PLTMH : Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro
o PLTN : Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
2. Transformator yaitu alat yang menaikkan atau menurunkan tegangan listrik
o Transformator pembangkit / tegangan tinggi
o Transormator tegangan menengah
o Transformator distribusi / tegangan rendah
3. Transmisi yaitu jaringan pengirim tenaga listrik tegangan tinggi
o SUTET : Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (500 kV)
o SUTT : Saluran Udara Tegangan Tinggi (150 kV, 70 kV)
o SKTT : Saluran Kabel Tegangan Tinggi (150 kV, 70 kV)
4. Distribusi adalah Jaringan pengirim tenaga listrik tegangan menengah / rendah
o SUTM : Saluran Udara Tegangan Menengah (20 kV)
o SKTM : Saluran Kabel Tegangan Menengah (20 kV)
o SUTR : Saluran Udara Tegangan Rendah (220 kV)
5. Konsumen
o Konsumen tegangan rendah
o Konsumen tegangan menengah
o Konsumen tegangan tinggi

Bagaimana PLTA bekerja 1 Maret 2008
Posted by mohab in Pengairan.
trackback

PLTA merubah energi yang disebabkan gaya jatuh air untuk menghasilkan listrik. Turbin mengkonversi tenaga gerak jatuh air ke dalam daya mekanik. Kemudian generator mengkonversi daya mekanik tersebut dari turbin ke dalam tenaga elektrik.
Jenis PLTA bermacam-macam, mulai yang berbentuk “mikro-hidro” dengan kemampuan mensupalai untuk beberapa rumah saja sampai berbentuk raksasa seperti Bendungan Karangkates yang menyediakan listrik untuk berjuta-juta orang-orang. Photo dibawah ini menunjukkan PLTA di Sungai Wisconsin, merupakan jenis PLTA menengah yang mampu mensuplai listrik untuk 8.000 orang.

Komponen PLTA
PLTA yang paling konvensional mempunyai empat komponen utama sebagai berikut :
1. Bendungan, berfungsi menaikkan permukaan air sungai untuk menciptakan tinggi jatuh air. Selain menyimpan air, bendungan juga dibangun dengan tujuan untuk menyimpan energi.
2. Turbine, gaya jatuh air yang mendorong baling-baling menyebabkan turbin berputar. Turbin air kebanyakan seperti kincir angin, dengan menggantikan fungsi dorong angin untuk memutar baling-baling digantikan air untuk memutar turbin. Selanjutnya turbin merubah energi kenetik yang disebabkan gaya jatuh air menjadi energi mekanik.
3. Generator, dihubungkan dengan turbin melalui gigi-gigi putar sehingga ketika baling-baling turbin berputar maka generator juga ikut berputar. Generator selanjutnya merubah energi mekanik dari turbin menjadi energi elektrik. Generator di PLTA bekerja seperti halnya generator pembangkit listrik lainnya.
4. Jalur Transmisi, berfungsi menyalurkan energi listrik dari PLTA menuju rumah-rumah dan pusat industri.

Berapa listrik yang bisa dihasilkan oleh PLTA ?
Besarnya listrik yang dihasilkan PLTA tergantung dua factor sebagai berikut :
1. Berapa besar air yang jatuh. Semakin tinggi air jatuh, maka semakin besar tenaga yang dihasilkan. Biasanya, tinggi air jatuh tergantung tinggi dari suatu bendungan. Semakin tinggi suatu bendungan, semakin tinggi air jatuh maka semakin besar tanaga yang dihasilkan. Ilmuwan mengatakan bahwa tinggi jatuh air berbanding lurus dengan jarak jatuh. Dengan kata lain, air jatuh dengan jarak dua satuan maka akan menghasilkan dua satuan energi lebih banyak.
2. Jumlah air yang jatuh. Semakin banyak air yang jatuh menyebabkan turbin akan menghasilkan tenaga yang lebih banyak. Jumlah air yang tersedia tergantung kepada jumlah air yang mengalir di sungai. Semakin besar sungai akan mempunyai aliran yang lebih besar dan dapat menghasilkan energi yang banyak. Tenaga juga berbanding lurus dengan aliran sungai. Dua kali sungai lebih besar dalam mengalirkan air akan menghasilkan dua kali lebih banyak energi.

Komponen PLTU Batu Bara Diusulkan Bebas BM


Jakarta-Pemerintah kemungkinan besar akan menghapuskan bea masuk (BM) untuk komponen pendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. Hal itu, guna mempercepat realisasi program jangka pendek PLTU 10.000 megawatt (MW).
Meski demikian, pemerintah masih merumuskan besaran tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang akan dimanfaatkan untuk PLTU batu bara.
"Setelah menghitung dan menetapkan besaran TKDN untuk PLTU batu bara ini, selanjutnya, kami akan mengidentifikasi bahan baku dan komponen yang masih perlu diimpor karena belum dapat diproduksi di dalam negeri. Oleh karena itu, kami mengusulkan kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan fasilitas pembebasan BM itu," kata Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari, Senin (26/2).
Berdasarkan usulan sementara, produsen yang akan menggarap proyek hingga 8 MW, tingkat komponen lokalnya harus mencapai 70 persen, PLTU skala 8 MW hingga 25 MW harus mencapai 50 persen, dan PLTU 25 MW hingga 100 MW komponen lokal 45 persen dapat ditoleransi.
Menurut Ansari, saat ini industri dalam negeri sebenarnya telah mampu memproduksi komponen utama PLTU batu bara, seperti boiler, balance of plant (BOP), peralatan elektrikal, dan rangkaian instrumentasi yang diproduksi oleh industri permesinan dan elektronik. "Namun kapasitas produksi industri dalam negeri masih sangat terbatas," imbuhnya.
Ia juga menjelaskan komponen utama lainnya, seperti turbin dan generator masih dalam tahap pengembangan dengan lisensi dari luar negeri, yang selanjutnya diprogramkan untuk manufacturing di dalam negeri. "Komponen ini yang salah satunya kami minta untuk dibebaskan bea masuk," ungkap Ansari.
Sejak crash program PLTU 10.000 MW ini dicanangkan, sejumlah industri dalam negeri langsung meresponsnya dengan membentuk konsorsium antara industri manufaktur dengan industri jasa terintegrasi (EPC) dalam mempersiapkan desain dasar PLTU untuk skala 7 MW hingga 100 MW sebagai persyaratan kualifikasi tender yang ditetapkan PT PLN. Selain harus memiliki desain dasar, PLN juga mengharuskan peserta lelang memiliki Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) sesuai UU No 18/1999 tentang Jasa Konstruksi.
Ansari mengungkapkan berdasarkan sejumlah persyaratan yang diwajikan PLN, saat ini ada tujuh perusahaan EPC yang telah lolos prakualifikasi, di antaranya PT PAL Indonesia, PT Bharata, PT Tripatra, dan PT Wijaya Karya. (moh ridwan)
Modifikasi Sistem Kontrol Under Speed Relay PLTA Maninjau
11 June 2008 – 10:51
Dalam pengoperasian PLTA Maninjau yang sudah berjalan selama hampir 2 dekade, mengalami kesulitan untuk pengadaan peralatan kontrol sehubungan dengan kemajuan teknologi dimana PLTA Maninjau boleh dikatakan mulai ditinggalkan oleh teknologi yang lebih mengutamakan sistem digital sedangkan PLTA Maninjau masih menggunakan sistem elektromekanik.
Salah satunya adalah Under Speed Relay yang masih elektromekanik, karena sistem tersebut sudah jarang bahkan mungkin tidak diproduksi lagi maka perlu dilakukan modifikasi pada bagian tertentu terutama pada bagian yang sulit didapatkan di pasaran umum agar dapat dioperasikan sebagaimana mestinya.
Komponen yang digunakan tidak umum tersebut adalah Relay type NR-S2-24V tidak ada dijual di pasar umum untuk itu penulis telah melakukan modifikasi pada bagian kontrol tersebut, dimana modifikasi dilakukan dengan menggunakan komponen yang umum yaitu “Dioda Zener 24V”. Dan hal ini ternyata dapat memberikan unjuk kerja yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan.
Dalam modifikasi pada Under Speed Relay ini biaya yang dikeluarkan hanya Rp. 300,– yang digunakan untuk pembelian satu buah Dioda Zener 24 Volt.
Under Speed Relay type KBN2-KXGP yang dipasang pada system rem unit pembangkit PLTA Maninjau bekerja secara automatis guna mengaktifkan break setelah putaran mencapai 20% atau 120 rpm, sensor putaran akan diterima oleh terminal P1 dan P2 (dengan rated voltage 20 volt) yang didapat dari PMG setelah melalui rectifier untuk diteruskan kekumparan guna menggerakkan jarum putar (moving coil) yang bergerak meninggalkan terminal kontak pada ujung kanan pada relai, pada tegangan tertentu sesuai setting maka kontak yang ada di ujung jarum putar akan menekan kontak dengan terminal tegangan pada ujung kiri dan akan mengakibatkan aktifnya relai bantu dan terminal 3 dan 4 pada relai bantu akan kontak, dan break akan bekerja menghentikan turbin yang sedang berputar, dengan dipasangnya relai yang bekerja automatis ini pada unit pembangkit adalah untuk menghindari terjadinya salah operasi yang dilakukan oleh operator yang dapat terjadi kapan saja karena jika break dikerjakan secara manual dapat saja operator mengaktifkan break pada unit yang sedang beroperasi (bukan unit yang akan distop) hal ini akan berakibat fatal, dapat berupa kerusakan pada break itu sendiri maupun kerugian akibat kehilangan beban pada saat operasi bahkan kerusakan fisik yang ditimbulkan akibat terjadinya getaran (vibrasi yang tinggi akibat unit dalam kondisi putaran tinggi langsung di rem atau break).
Dengan dipasangnya Under Speed Relay yang bekerja secara automatis ini semua kerugian akibat salah operasi oleh operator dapat dihindari.
Setelah diperiksa Under Speed Relay menggunakan komponen yang sangat rumit dimana auxiliary relai menggunakan type NR-S2-24V yang tidak pernah didapatkan di pasaran.
Dalam mengatasi kondisi tersebut maka dilakukanlah modifikasi pada rangkaian control dari pada Under Speed Relay yaitu merubah system control yang menggunakan komponen yang tidak ada dijual di pasaran diganti dengan komponen yang umum digunakan bahkan komponen elektronik yang terpasang pada relai tersebut tidak digunakan lagi dan diganti dengan komponen yang banyak digunakan pada peralatan yang bersifat umum dimana komponen yang diganti adalah auxiliary relay type NR-S2-24V tidak digunakan lagi dan sebagai pengganti untuk stabilisasi tegangan digunakan Dioda Zener 24 Volt.
Sedangkan unjuk kerja Under Speed Relay masih tetap seperti semula, tetapi tegangan kerja akan langsung menggerakkan auxiliary relay yang akan mengontakkan terminal 3 dan terminal 4 pada Under Speed Relay, sedang pada mulanya yang pertama digerakkan adalah relai bantu type NR-S2-24V setelah relai ini bekerja akan menggerakkan relai bantu selanjutnya tetapi dengan pemasangan dioda zener maka relai bantu yang bekerja akan langsung digerakkan dan terminal 3 dan terminal 4 akan langsung kontak.
Sebelum dilakukan modifikasi pada peralatan terlebih dahulu dilakukan uji coba dengan menggunakan peralatan yang masih baik yaitu unit 2, dimana sudah dilakukan penggantian peralatan dengan peralatan yang baru.
Setelah diketahui prinsip kerja dari pada peralatan yang akan di modifikasi maka diketahui bahwa modifikasi dapat dilakukan dengan hanya menggunakan komponen umum bahkan komponen yang terpasang sebelumnya harus dibuka dan tidak digunakan lagi karena memang perlatan tersebut tidak dibutuhkan dalam operasi selanjutnya.
Selama melakukan modifikasi ini semua langkah pengetesan dilakukan dengan melibatkan rekan-rekan dari pemeliharaan PLTA Maninjau, uji coba dilakukan dengan menggunakan peralatan test yang ada maupun langsung ke unit pembangkit itu sendiri dalam hal ini tetap dilakukan bersama dengan rekan-rekan dari pemeliharaan PLTA Maninjau.
Setelah modifikasi ini dilakukan Insya Allah PLTA Maninjau tidak lagi mengalami kesulitan waktu Shut-Down karena peralatan yang dibutuhkan sudah berfungsi dengan baik dan Under Speed Relay hasil modifikasi ini tidak pernah mengalami gangguan.
Inovatorhttp://inovasi.pln-kitsbs.co.id/2008/06/11/modifikasi-sistem-kontrol-under-speed-relay-plta-maninjau/
Yusafri Rusli
Sektor Pembangkitan Bukittinggi
Citarum, Urat Nadi PLTA yang
Citarum sudah diketahui sebagai salah satu sungai besar yang mengalir di Jawa Barat. Sungai yang dulunya jernih itu kini tampak kehitaman dengan bau busuk yang menyengat. Penyebabnya, apalagi kalau bukan limbah yang dibuang dari industri dan rumah tangga.
Pembabatan hutan memperparah kondisi sungai itu. Tidak adanya pohon menyebabkan tanah gundul mudah tererosi ke sungai. Akibatnya, tanah yang menjadi lumpur ditambah sampah mempertebal endapan sungai. Padahal, air sungai itulah yang menjadi penggerak turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Terdapat tiga PLTA yang bergantung pada Sungai Citarum, yaitu Cirata, Jatiluhur, dan Saguling. Jika air sungai diibaratkan darah, maka Sungai Citarum dapat disebut urat nadi bagi PLTA.
Namun, kondisi urat nadi itu sudah sangat memprihatinkan dengan darah yang kotor akibat pencemaran. Akibatnya, PLTA pun menjadi "sakit" dan harus lebih sering diobati dengan mengganti komponen- komponen yang rusak. Sebab, air tercemar menyebabkan korosi.
Manajer Lahan dan Waduk serta Humas PT Indonesia Power, Djoni Santoso, mengatakan, pencemaran Sungai Citarum terus terjadi. Pencemaran itu bahkan bisa dikatakan sangat parah. Dampaknya, berbagai komponen pembangkit listrik menjadi lekas rusak.
Baik industri maupun rumah tangga sama-sama memberikan kontribusi terhadap pencemaran Sungai Citarum. Sejak dari Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, air limbah sudah melimpah.
"Apalagi, hutan pun semakin habis. Kalau sedang musim hujan, masih mending sebab tercampur air hujan. Air Citarum sudah tercemar 100 persen," katanya.
Pihak PT Indonesia Power sudah sering mengeluarkan imbauan agar kalangan industri dan masyarakat dapat mengendalikan pencemaran. Pengelola pabrik, misalnya, diminta untuk tidak membuang langsung limbahnya ke sungai, tetapi mengolahnya terlebih dulu.
Begitu pula di berbagai kompleks perumahan yang seharusnya didirikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). "Buatlah IPAL terlebih dulu sebelum membuang limbah. Ada baiknya perumahan- perumahan dikoordinasi karena lebih mudah. Berbeda dengan kondisi di pelosok," katanya.
Langkah itu perlu dilakukan untuk membuat air sungai bersih. Malaysia pun sudah mampu membuat sungai-sungainya tidak tercemar.
Menurut Djoni, pembersihan Citarum biasanya dilakukan setiap hari dengan backhoe di Batujajar. Di daerah itu terdapat endapan lumpur paling tebal. Sampah dibersihkan dengan cara diangkut. Namun, sejak pekan lalu kegiatan itu dihentikan untuk sementara karena permukaan air sungai terlalu dangkal.
Dia mengatakan, debit air yang masuk ke Saguling pada musim hujan paling deras sebanyak 400 meter kubik per detik. Namun, pada musim kemarau seperti ini hanya 4-5 meter kubik per detik. Menurut Djoni, hujan yang diperkirakan turun setidaknya pada 10 hari pertama bulan Oktober tidak terjadi. Dia berharap hujan akan turun dalam minggu ini.
Pihak PT Indonesia Power juga bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk memeriksa kadar air. Hasilnya diserahkan kepada pemerintah daerah terkait agar diketahui dan ditindaklanjuti.
Mengenai pasokan listrik, Djoni mengatakan, hal itu tidak menjadi masalah. Sebab, air yang tersedia di bendungan mencukupi untuk menggerakkan turbin.
Selain itu, bila terdapat kendala pada pembangkit listrik, Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) akan mengantisipasinya. Kemampuan PLTA lain dapat diatur sedemikian rupa sehingga dapat menutupi masalah.
Beberapa pembangkit listrik tenaga uap seperti di Suralaya dan Paiton juga bisa diberdayakan. Sampai Hari Raya Idul Fitri, kata Djoni, pasokan listrik diperkirakan aman. Nafkah petani
Tidak hanya untuk PLTA, Citarum juga merupakan denyut nadi bagi para petani yang tinggal di sekitar sungai itu.
Suatu siang di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, di sebuah tempat yang disebut saung darurat, Acip (63), petani sayuran, tengah melepas penatnya dari terik matahari. Tempat tersebut terbuat dari batang-batang tumbuhan yang diikat sehingga bisa dipakai untuk berteduh. Sementara itu, isterinya, Mimih (59), baru saja menyelesaikan shalat zuhur.
Tidak ada yang aneh memang. Hanya, tempat itu dipenuhi lalat yang terbang ke sana kemari. Menurut Acip, hal itu disebabkan saung yang mereka gunakan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan pupuk yang terbuat dari kotoran ayam.
Puluhan karung pupuk yang menghabiskan uang sampai Rp 500.000 itu adalah satu-satunya modal yang mereka punyai.
Bibit tanaman kol dia dapatkan dari seorang pemilik modal dengan mekanisme bagi hasil. Adapun Acip yang hanya bermodal pupuk dan tenaga. Namun, pupuk itu pun dia dapatkan dengan cara berutang.
Akan tetapi, keluarnya Surat Edaran Gubernur Nomor 522/1224/Binprod Tahun 2003 mengenai larangan bertanam secara tumpang sari membuat dia harus berhenti dari pekerjaannya selama dua tahun. Dalam dua tahun itulah dia tidak bisa berbuat apa-apa karena usia tidak lagi mengizinkannya untuk mencoba pekerjaan lain.
"Oleh karena itu, saya kembali naik untuk menanam sayur di hutan lindung meskipun pemerintah tidak mengizinkannya," Acip menjelaskan.
Keputusan untuk kembali menanam sayur tidak serta-merta dilakukan dengan cara membabi buta. Dia masih mempertahankan pohon tegakan dan tanaman pokok. Selama dia menanam sayur, belum ada polisi hutan yang datang menegur.
Kalaupun polisi hutan datang, Acip tak akan gentar. Dia bersikeras bahwa apa yang dia lakukan hanyalah mengusahakan pemberian Tuhan tanpa kehilangan iman dan menjadi pencuri kayu. (Dwi Bayu Radius/Didit Putra Erlangga) http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0610/09/Jabar/6595.htm
Perancangan heat recovery steam generation untuk mengkombinasi PLTG dengan PLTU PT Indonesia Power unit Perak [permalink]
SIMPLE | EXTENDED
Pertumbuhan industri yang berkembang dengan pesat setiap tahunnya
menuntut PT. PLN (Persero) melalui anak Perusahaan PT. Indonesia Power agar
dapat menyediakan kebutuhan listrik setiap waktu, karena itu dibutuhkan langkah
yang efisien dalam menambah kapasitas produksi listrik.
Heat Recovery Steam Generator (HRSG) merupakan komponen pengganti
boiler yang bisa mengkombinasi PLTG dan PLTU, dimana gas buang dari turbin
gas yang masih memiliki temperatur tinggi dimanfaatkan untuk mengkonversi air
hingga menjadi uap yang langsung disalurkan menuju turbin uap. Perancangan
HRSG ini ditujukan untuk mengkombinasi PLTU unit Perak kapasitas 50 MW
dengan PLTG kapasitas 100 MW. Semua elemen dalam HRSG menggunakan
pipa schedule 40 dengan panjang 4 m dimana dari hasil perhitungan didapatkan
jumlah pipa yang dibutuhkan. Pada superheater 2 sebanyak 900 pipa, pada
superheater 1 sebanyak 500 pipa, pada evaporator sebanyak 3000 pipa dan pada
economiser 500 pipa. Pressure drop total pada HRSG adalah sebesar 0,12463
Mpa.
Dari hasil perhitungan maka dapat diambil kesimpulan bahwa dengan
mengkombinasi PLTG dengan PLTU maka efisiensi thermal akan meningkat
hingga 52 % dan harga produksi listrik di PT. Indonesia Power bisa menjadi lebih
murah yaitu Rp. 412,7/KWh.
Author
• (24401090) PRATAMA WICAKSANA BUDI A
http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dg_4500.html
Priok Generation Business Unit


Priok Generation Business Unit at A Glance
Priok Generation Business Unit is one of generation units owned by PT Indonesia Power. Now, 16 generator units are installed which has 1,248 MW installed capacity consist of two units of opened cycle PLTG (gas turbine power plant); six units of PLTD (diesel power plant); two blocks of PLTGU (combined cycle power plant) which one block consists of three units of gas turbine and a unit of PLTU (steam power plant).
In the middle of 1960, in order to fulfill the electricity need particularly in Jakarta and generally in West Java, PLN Explorasi III built PLTU 1 and 2. However, in 1989, taking into account of several factors, PLTU 1 and 2 were not operated anymore.
Due to rapid development in each aspect of life, especially in industry, two units PLTU 3 and 4 were built in 1972. Have been operated for a while, these units are now in reserve shut down condition.
Later on, PLTG John Brown was built. Now it is used by PLTU Suralaya for Black Start unit. Then, two units Westing House PLTG and GE 4, 5, 6, 7 PLTG were built. GE 6 was relocated to PLN of South Sumatera and GE 7 has drawn back to General Electric. GE 4 and 5 were also relocated to PLTGU Pemaron, Bali.
The important thing that we should know about is the existences of the two units of PLTG: PLTG 1 and PLTG 3. Those units can be generated using their own power if blackout occurs. The electricity their produce can be used to generated other units. This capability does support the improvement of Java-Bali Transmission System. Because of its essential function, the two units are not being operated every day.
Other than managing those two PLTG units, Priok Generation Business Unit also manages six units of PLTD Senayan which was operated in 1961. By feeder Vip, PLTD Senayan, Kebayoran, has supplied the need of electricity for MPR (People Consultative Assembly) Building, Senayan Sport Stadium, and the television station TVRI.
On March 25, 1992, PLN joined in international consortium ABB and Marebeni to build two blocks of PLTGU. By using underground cable, the 150 KV electricity is channeled to Plumpang and Ancol main relay stations. The power is also channeled by 150 KV high voltage air transmission to Kemayoran I/II, Plumpang I/II, Pegangsaan I/II. Synchronization to Java-Bali electric system is executed after PLTGU Priok is complete to be operated.
The human resources skill of Priok Generation Business Unit, so far, has been an invaluable asset. Beside possessing professional human resource in their field, the management, by gaining the ISO 9002 Award, is proven to be able to manage the company well.

Priok GBU Power Plant
Power Plant Number of Machine Installed Capacity Total
Senayan Diesel PP 4 2.52 MW 10.08 MW
Senayan Diesel PP 2 3 MW 6 MW
Priok GTPP 2 26 MW 52 MW
Priok CCPP 6 130 MW 780 MW
Priok CCPP 2 200 MW 400 MW

Address
Priok Generation Business Unit
Jl. Laks. Laut R.E. Martadinata, Jakarta 14310, Indonesia
Tel. (62-21) 435-3914 - 435-3919 (hunting), fax. (62-21) 496461, 435917

Sub Unit of Senayan Diesel PP
Jl. Asia Afrika Senayan, Jakarta Selatan 12210

Production Process of Priok Combined Cycle Power Plant
In principle, the Combined Cycle Power Plant (PLTGU) is a combination of Gas Power Plant (PLTG) and Steam Power Plant (PLTU) that uses heat energy that is exhausted from combustion in PLTG process. This energy heats water in Heat Recovery Steam Generator (HRSG) that, in return, produces steam that can revolve the turbine.
The cycle in PLTGU is a closed cycle that consist of gas turbine cycle and steam turbine cycle. Therefore, the heat is optimally utilized.
Now, PLTGU Priok has two block generators, each consists of three units of PLTG and one unit of PLTU. The development of the power plant was started on March 25, 1992 and was inaugurated by president Soeharto on January 18, 1994.
The Process of Gas Power Plant (PLTG)

Natural gas supplied from Arco Station (1) directly channeled to combustion chamber (2) along with air that is supplied from main compressor (4) after having passed along air filter (5). As a result, the combustion occurs in combustion chamber and produces hot steam. The hot steam is directly channeled to gas turbine (3). The residue gas that passed the gas turbine, if it is not reused (open cycle) the residue gas channeled through the valve (8). But if it is reused (closed cycle) it will be reentered through a valve (9) into a Heat Recovery Steam Generator/HRSG (10).
The Process of Steam Power Plant (PLTU)
The water filler inside deaerator (11) will be channeled either to Low Pressure Flow Water/LPFW (13) and High Pressure FW/HPFW (12). The water filler from HPFW will be directed to HRSG after passing pipe/steam channel HP Admission Steam. The water filler is channeled to High Pressure Turbine/HPT (15) that previously flows via main steam valve (14) and later it is flown to low pressure turbine/LPT (16). After that, it is clutched by generator (17) to generate electricity through conductor (18).
The residue steam from LPT will be rechanneled to condenser (19) to be converted to condensed water after being condensed by cooling water/sea water. The condensed water is later pumped by condensate pump (20) to be channeled into Feed Water Tank inside the deaerator.
The water from condensate pump is branched into HP Bypass (21) to regulate high pressure steam valve (22) and LP Bypass (23) to regulate low pressure steam valve (24). The main high pressure steam valve (25) is utilized to regulate the quantity of high pressure steam entering Steam Turbine (HPT). While the quantity of high pressure steam that is used to heat deaerator is regulated by steam valve (26).
Electricity Transmission System
The electricity generated by PLTG generator is 15.75 kV while by PLTU generator is 18 kV. The voltage is later augmented by main transformer to 150 kV. Then , it is interconnected to Java-Bali transmission system.
http://www.indonesiapower.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=154:unit-bisnis-pembangkitan-priok&catid=64:business-unit&Itemid=92
Deperin Tetapkan Penggunaan Komponen Lokal PLTU Batubara 10 Ribu MW
Rabu, 24 Mei 2006 10:14
BERI KOMENTAR
________________________________________
CETAK BERITA INI
________________________________________
KIRIM KE TEMAN
________________________________________
Ikuti Kuis Berhadiah, Revenge Movies

Kapanlagi.com - Departemen Perindustrian (Deperin) menetapkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), untuk mengantisipasi pelaksanaan proyek pembangunan PLTU batubara 10 ribu MW dalam rangka menjamin pasokan listrik di Indonesia.
"Deperin telah melakukan berbagai persiapan dan koordinasi industri serta pihak terkait untuk mengantisipasi pembangunan PLTU batubara tersebut dalam upaya meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri," ujar Menperin Fahmi Idris di Jakarta, Selasa.
Rencana pembangunan PLTU batubara 10 ribu MW itu merupakan hasil kesepakatan pemerintah Indonesia dan Cina dalam kunjungan Wapres M Jusuf Kalla beberapa waktu lalu.
Deperin, kata dia, telah menghitung dan menetapkan untuk PLTU skala sampai dengan 8 MW, TKDN-nya untuk 69%, untuk jasa 96%. Sedangkan untuk PLTU skala 8-25 MW TKDN untuk barang 55% dan jasa 91%.
Untuk PLTU skala 25-100 MW TKDN barang 49% dan jasa 87%. Untuk PLTU skala di atas 100 MW TKDN barangnya 43% dan jasa 72%, sehingga total TKDNnya sebesar 45%.
"Ketentuan itu akan digunakan untuk mendorong EPC (Engineering Procurement and Construction) mengoptimalkan pencapaian TKDN sehingga bisa meningkatkan peran industri mesin peralatan listrik dan meningkatkan utilisasinya," kata Fahmi.
Ia juga mengatakan Deperin akan mendorong pembentukan konsorsium industri yang terkait dengan pembangunan PLTU tersebut.
"Potensi industri boiler, balance of plant (BOP), sipil, konstruksi, dan industri jasa EPC merupakan kekuatan industri nasional yang akan didayagunakan semaksimal mungkin dakam proyek PLTU batubara," katanya.
Sedangkan industri generator dan turbin akan dilakukan kerjasama dengan perusahaan manufaktur dari luar negeri agar bisa dirakit di dalam negeri.
Deperin juga akan melakukan inventarisasi jenis bahan baku dan komponen yang masih diimpor dan diusulkan untuk diberi insentif bea masuk, perpajakan, dan pembiayaan.
"Untuk pembangunan PLTU batubara skala sampai dengan 100 MW akan disiapkan kebijakan yang mewajibkan pembangunan dilakukan EPC nasional. Sedangkan PLTU di atas 100 MW diutamakan kerjasama dengan EPC nasional," katanya. (*/erl)
Apa Dasar Pembangunan PLTU Batu Bara?

Persiapan Pembangunan Perlu 1-2 Tahun
Nengah Sudja
Untuk mengurangi pemakaian BBM pemerintah akan membangun pembangkit batu bara. Dua program total 20.000 MW dirancang berjalan bersamaan, yaitu 10.000 MW dibangun dalam waktu dua tahun oleh pemerintah melalui PT PLN dan 10.000 MW oleh pembangkit listrik swasta.
Berbagai pertanyaan. Apakah program tersebut disusun berlandaskan Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan (PSK), dilengkapi kajian pertimbangan prakiraan pertumbuhan beban (demand) listrik jangka panjang?; perhitungan solusi optimal, least cost perencanaan sistem?; pertimbangan kendala teknis, jadwal/waktu, ekonomi/keuangan, lingkungan hidup?
Sebab, dari prakiraan pertumbuhan beban 7 persen per tahun untuk Jawa-Madura-Bali (Jamali) dan 10 persen untuk Luar Jamali dengan beban puncak Jamali (2006) mencapai 15.000 MW dan Luar Jamali (5.000 MW), untuk dua tahun hanya diperlukan 3.100 MW.
Lalu mengapa ada program pembangunan 10.000 MW sampai 2009? Padahal, Rencana Penyediaan Tenaga Listrik (RPTL) PLN tahun 2004-2009 sudah ada rencana berjalan tambahan pembangkit baru 8.284 MW (untuk Jamali 7.443 MW dan 841 MW di luar Jamali). Apakah program sebesar 20.000 MW ini tidak akan menyebabkan kelebihan pasokan (over supply)?
Apakah rencana pembangunan 20.000 MW sudah didasarkan atas kaidah solusi optimal? Bila ya, apa hasil rincian jenis pembangkitnya, besar satuan dan dayanya, kapan waktu operasinya? Apa kebutuhan 20.000 MW hanya PLTU batu bara, sebagai penanggung beban dasar? Apa tidak diperlukan pembangkit beban puncak? Mengapa di Jamali masih dibangun satuan 300 MW? Di Pacitan dibangun 2 x 300 MW, apa ada kebutuhan daya sebesar itu di daerah ini? Sistem Jamali sudah mengoperasikan satuan 600 MW. Biaya pembangunan 2 x 300 MW pasti lebih mahal dari 1 x 600 MW? Mengapa tidak mulai dibangun satuan yang lebih besar 1.000 MW, misalnya, yang lebih hemat biaya modalnya, tetapi juga akan menghemat lahan, tanah dan lokasi?
Diberitakan, tiga pihak dari China menjamin akan bisa membangun PLTU 8.000 MW dengan biaya 700.000 dollar AS per MW, jauh lebih murah dari biasanya yang 1 juta dollar AS per MW. Apakah pilihan pembangunan PLTU hanya didasarkan atas biaya modal? Selain biaya modal, biaya bahan bakar (efisiensi termal), biaya operasi dan pemeliharaan, ketersediaan (availability) menentukan biaya pembangkitan selama kurun waktu operasinya.
Biaya modal yang murah belum pasti memberikan biaya pembangkitan yang lebih murah. Sepeda motor buatan China, belum tentu memberikan biaya kendaraan per km lebih murah dari sepeda motor Jepang yang mahal pembeliannya. Ketersediaan yang rendah berarti harus menyediakan tambahan cadangan kapasitas untuk tetap dapat memenuhi beban. Ini akan menambah biaya pasokan.
Kendala teknis
Apa betul pembangunan 10.000 MW akan dapat diselesaikan dalam dua tahun ?
Proses pembangunan proyek mencakup: perencanaan, rancang bangun, pembuatan spesifikasi tender, pelelangan, pembangunan pekerjaan sipil, penyerahan/ pemasangan peralatan dan uji coba operasi sebelum proyek dinyatakan siap operasi.
Perencanaan mencakup penelitian lokasi, survei terkait penyelidikan pilihan lokasi, pembuatan peta lokasi, penelitian geologi, tanah, kelautan, meteorologi, untuk pembuatan rancang bangun. Dari rancang bangun disusun pembuatan dokumen tender untuk pelaksanaan pelelangan sebagai dasar pelaksanaan pembangunan proyek. Pelaksanaan pelelangan dilakukan setelah ada kepastian penyediaan dana.
Kegiatan di atas melibatkan berbagai lembaga seperti pemilik proyek, konsultan, lembaga keuangan, pemasok dan pemasangan peralatan (yang banyak jumlahnya dan kalau diserahkan kepada satu pemborong, tetap perlu waktu untuk koordinasi). Lembaga pemerintah pun perlu waktu untuk evaluasi dan pemberian perizinan (di negara industri ada izin lokasi, pembangunan dan operasi).
Persiapan pembangunan perlu minimal waktu 1-2 tahun, sedangkan pembangunannya sendiri perlu 3-4 tahun sampai siap beroperasi. Apakah jadwal waktu kegiatan dan koordinasi pihak-pihak terkait sudah disusun? Untuk menjamin keberhasilan pembangunan dan pengoperasian PLTU selama 30-40 tahun kemudian, perlu alokasi waktu persiapan yang memadai. Karena itu, bagaimana 10.000 MW yang terdiri atas puluhan proyek dapat diselesaikan pada tahun 2009? Dan mengapa harus tahun 2009? Di masa lalu pembangunan 20.000 MW perlu 29 tahun, dari daya terpasang PLN 541,6 MW (1969) menjadi 20.580,8 MW (1998). Selain itu mengapa hanya disebutkan penambahan sistem pembangkitan saja? Bagaimana dengan program sistem transmisi, distribusi dan sambungan sampai ke pelanggan/pemakai? Berapa dana yang diperlukan?
Keterbukaan
Disayangkan, PLN yang mendalami konsep perencanaan ketenagalistrikan, tidak bersikap independen, berani menyampaikan masukan-balik profesional. Sistem birokrasi di negeri ini tidak melindungi silang/perbedaan pendapat dengan atasan. Profesionalisme lalu didominasi dan dipecundangi politisi.
Untuk menguji kelayakan pembangunan 20.000 MW tersebut, disarankan diadakan pembahasan independen. Dialog terbuka perlu diselenggarakan melalui lokakarya yang dihadiri kalangan profesional di bidang ketenagalistrikan, ekonomi/keuangan, pertambangan, lingkungan hidup. Ada cukup banyak ahli yang dapat diundang, dari perguruan tinggi, konsultan, profesi/ kejuruan, lembaga swadaya masyarakat. PLN yang pertama diminta memberikan uraian teknis mengenai kelayakan rencana pembangunan 20.000 MW tersebut.
Dari lokakarya itu akan diperoleh rencana pembangunan sektor ketenagalistrikan yang telah diuji secara profesional dan independen untuk dipertimbangkan sebagai rencana yang lebih mencerminkan kepentingan publik/masyarakat.
Nengah Sudja
Peneliti Masalah Ketenagalistrikan
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0608/07/sorotan/2861382.htm
Sumber Daya Nasional dan Peran Swasta dalam Pembangkit Listrik Thermal

Kebutuhan Listrik Nasional
Dalam rangka mengantisipasi pertumbuhan listrik yang diakibatkan oleh pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 6.2%, maka sampai dengan tahun 2002/2003 telah dipersiapkan perkiraan perkembangan kebutuhan listrik Nasional sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel-1.
Tabel-1 Prakiraan Kebutuhan Listrik Nasional
PLN Demand Unit 1993/94 1998/99 2002/03
1. Java-Bali System -energy
-Peak Load (GWh)
(MW) 43,400
6,512 78,400
13,373 112,700
18,832
2. Outside Java -energy
-Peak Load (GWh)
(MW) 19,500
3,900 36,900
7,011 58,500
10,530
3. Total Indonesia -energy
-Peak Load (GWh)
(MW) 63,300
10,412 115,300
20,384 171,200
29,362
Untuk memenuhi kerkiraan kebutuhan listrik tersebut telah dibuat Prakiraan Pembangunan Pembangkitan sampai dengan Tahun 2002/2003 seperti dituangkan pada Tabel-2 dan Tabel-3.

Tabel 2
Prakiraan Pembangunan Sarana Pembangkitan Jawa-Bali
Tambahan 97/98 98/99 99/00 00/01 01/02 02/03
Jawa-Bali
PLTA
PLTP
PLTU b. bara
PLTGU
PLTG 533
165
600
280
0 26
0
0
0
0 0
55
0
0
400 0
0
800
0
0 1360
0
0
0
0 0
0
0
0
0
Total 26 455 800 1.360 0 0


Tabel3
Prakiraan Pembangunan Sarana Pembangkitan di Luar Jawa-Bali
Tambahan
Di luar Jawa Bali 97/98 98/99 99/00 00/01 01/02 02/03
PLTA
PLTP
PLTU b. bara
PLTGU
PLTG
PLTD 142
2
165
132
340
74 202
0
65
280
100
73 223
18
330
0
140
0 483
0
65
0
60
0 482
0
0
66
65
0 445
0
0
0
155
0
Total 855 720 711 608 603 600
Terlihat peranan Pembangkit Listrik Tenaga Thermal sangat dominan sebesar 73%. Untuk pembangunan seluruh rencana kapasits terpasang tersebut maka selain PLN, juga telah diminta pada pihak swasata untuk memberikan kontribusi dalam pembangunan Pembangkit Listrik.
Sumber Daya Nasional
Sumber Daya Energi
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Thermal telah memakai beberapa sumber daya energi yakni :
o Minyak
o Batu Bara
o Panas Bumi
o Gas Alam
Sesuai dengan kebijakan Pemerintah dalam hal Diversifikasi Energi, bahan bakar minyak telah dijadikan komoditi ekspor, dan dengan ketersediaan bahan bakar lain seperti batu bara, gas dan panas bumi yang cukup banyak, maka dalam pembangunan pusat listrik tenaga thermal telah dilaksanakan untuk menggunakan bahan-bahan bakar tersebut.
Sumber Daya Manusia
Dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Thermal diperlukan Sumber Daya Manusia yang mempunyai kemampuan dan pengalaman. Penanganan design dan enjiniring pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Thermal dilakukan oleh tenaga asing dan nasional. Tenaga ahli nasional terdiri dari enjinir-enjinir PLN PPE dan konsultan nasional.
Secara bertahap kemampuan tenaga nasional telah diberi peluang untuk ditingkatkan dengan mengikutsertakan mereka secara aktif di dalam proyek yang pendanaannya berasal dari Pemerintah dalam bentuk APBN dan APLN.
Untuk mencapai kemandirian dalam melaksanakan enjiniring proyek, telah mulai ditetapkan perusahaan konsultan nasional sebagai leading company dengan bantuan perusahaan asing, dengan tenaga ahli luar negeri sebagai penunjang.
Hal ini perlu ditindaklanjuti dengan memperbesar peranan enjinir nasional untuk semua proyek-proyek thermal sehingga secara bertahap porsi tenaga ahli luar negeri akan berkurang dan akhirnya tenaga ahli nasional menjadi "Lead Engineer". Khusus dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Thermal yang dilaksanalan oleh perusahaan swasta keterlibatan Sumber Daya Manusia Nasional di bidang design dan enjiniring masih sangat kecil. Untuk ini perlu dipikirkan suatu kebijaksanaan untuk melibatkan perusahaan nasional dengan tenaga ahli nasional dalam setiap Proyek Listrik Swasta. Namun di pihak lain, penyediaan tenaga-tenaga enjinir nasional yang cukup dan berkualitas masih sangat terbatas. Perlu langkah-langkah yang pasti untuk peningkatan jumlah dan kualitasnya.
Dalam hal enjiniring bidang manufacturing dan konstruksi dialami pula hal sama.
Pabrik/Manufacturing
Dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Thermal sudah banyak peran serta Pabrikan Nasional yang mempunyai spesialisasi, antara lain pekerjaan Pabrikasi Boiler/Heat Recovery Steam Generator (HRSG), Condenser, Feed Water Heater, Cooling Water Piping, Structural Steel, Ducting, Critical Piping, Coal Silo, Air Heater, Coal Handling, Ash Handing dan lain-lain dan diharapkan dimulai juga dengan Turbin. Dalam surat Menteri Negara Riset dan Teknologi/Ketua BPPT No. 161/M/BPPT/IV/1994 telah diterbitkan daftar komponenpembangkit tenaga listrik yang sudah dapat dibuat di dalam negeri dan harus diperhatikan oleh PLN.
Data monitoring penggunaan komponen lokal dalam pembanguna proyek-proyek thermal sampai saat ini menunjukkan presentasi yang masih kecil (rata-rata 20%).
Ini berarti untuk masa-masa mendatang penggunaan kemampuan lokal masih perlu dikembangkan dan ditingkatkan kwantitasnya (enjiniring/manufacturing). Untuk proyek-proyek Pembangkit Listrik Tenaga Thermal yang dikelola oleh perusahaan swasta disarankan juga untuk menggunakan produksi nasional sebesar-besarnya.
Konstruksi
Tenaga nasional telah banyak dipakai dalam pelaksanaan konstruksi dan manajemen proyek-proyek Pembangkit Listrik Tenaga Thermal dan untuk konstruksi sipil diperkirakan sudah mancapai 90%. Dalam bidang mekanikal dan elektrikal masih perlu ditingkatkan karena porsinya diperkirakan masih sekitar di bawah 50%.
Peningkatan ini akan terlaksana bila keterlibatan tenaga nasional secara berkesinambungan pada proyek-proyek thermal dapat direalisir termasuk juga proyek-proyek yang dikelola oleh swasta. Dengan demikian secara bertahap porsi tenaga asing akan berkurang.
Namun pula perlu dipersiapkan penambahan tenaga-tenaga terampil seperti pemasang (erector), pengelas (welder) dan lain-lain. Demikian pula tenaga-tenaga operatornya.
Sumber Dana
Pembanguna proyek-proyek Pembangkit Listrik Tenaga Thermal dibiayai oleh pinjaman-pinjaman luar negeri yang berbentuk pinjaman lunak (soft loan) dan pinjaman tidak lunak (semi commercial loan) serta sebagai akibat cara pendanaan tersebut penggunaan komponen/kandungan lokal menjadi terbatas.
Dengan perubahan bentuk badan ussaha PLN dari Perusahaan Umum menjadi Persero, maka kesempatan bagi PLN untuk melibaatkan peranan modal masyarakat menjadi makin besar dalam bentuk pemilikan saham-saham dalam anak-anak perusahaan yang akan dibentuk. Di samping itu, PLN bersama perusahaan swasta nasional dapat membangun Pembangkit Listrik Tenaga Thermal. Hal ini akan memudahkan pemakaian dan penggunaan kemampuan nasiional mulai dari enjiniring, manufaacaturing dan konstruksi sebesar-besarnya.
Peran Listrik Swasta
Dalam menyongsong era PJPT II, untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional yang telah direncanakan PLN, pembangunan beberapa proyek Pembangkit Listrik Tenaga Thermal diberikan kepada pihak perusahaan swasta dengan perjanjian jual beli listrik antara PLN dengan pihak swasta.
Dari sudut pengadaan listrik, keputusan ini sudah tepat sekali, namun perlu diperhatikan keterlibatan Sumber Daya Manusia Nasional dan komponen lokal yang dapat dirasakan masih minim sekali.
Dalam hal ini diperlukan suatu kebijaksanaan sehingga dalam peran yang demikian besar kepada pihak swasta akan diperoleh dampak yang positip terhadap pemanfaatan Sumber Daya Nasional. 
Sumber : Kutipan makalah Dirut PLN pada Seminar Sehari yang diselenggarakan oleh BPIS dan Koperasi Dharma Profesi, 3 September 1994.
Artikel lain : http://elektroindonesia.com/elektro/no2c.html
Analisis Distribusi Sifat Heat Recovery Steam generator PT. Indonesia Power UBP Priok
Latar Belakang" Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) merupakan aplikasi baru untuk sistem pembangkit listrik di Indonesia. Sistem ini dapat menaikkan efisiensi pembangkit dan total daya pembangkitan." Diantara sekian banyak komponen yang ada, Heat Recovery System Generator (HRSG) merupakan salah satu komponen terpenting karena merupakan penghubung antara sistem PLTG (gas dan PLTU (uap) pada PLTGU." Sebagai dasar untuk mengetahui dan merawat HRSG, kondisi dari sistem perlu diketahui..

Perumusan MasalahMengetahui sistem dan proses yang terjadi pada PLTGU terutama pada HRSG.Memperoleh model HSRG yang cukup mumpuni dengan data lapangan yang ada.Memperoleh data distribusi sifat pada HRSG berdasarkan sistem yang telah disimulasikan pada model.Mengetahui kondisi dari HRSG berdasarkan pemodelan dan simulasi yang telah dilakukan.

Metode Penyelesaian MasalahMelakukan pemodelan fisik terhadap HRSG pada perangkat lunak Gambit 2.1 berdasarkan data-data yang didapat.Melakukan pemodelan dan simulasi terhadap sistem odel HRSG pada perangkat lunak Fluent 6.1Memberikan interpretasi terhadap hasil pemodelan dan simulasi berupa data distribusi sifat yang telah dilakukan.Menarik kesimpulan secara umum berdasarkan hasil interpretasi tiap sifat

HasilSifat-sifat berupa tekanan, kecepatan, dan intensitas turbulensi pada HRSG memiliki kontur yang cukup teratur. Fluktuasi nilai yang signifikan hanya terjadi pada daerah berkas pipa air, terutama di bagian tepi.Kontur temperatur memiliki distribusi yang cukup acak terutama pada bagian masukan sebelum berkas pipa air. Di daerah ini pula muncul fenomena hot spot.
Kata kunci: -
Nama: Tri Octavianto
NIM: 13100101
Tahun pembuatan: 2005
Dosen pembimbing: Dr. Ir. Rachmat K Bachroen ; Ir. Chakimoelmal J. Msc ; Prof.Ir. Wiranto Arismunandar
http://abstraksi-ta.fti.itb.ac.id/?abstraksi=1&details=1&id=159&tahun=2005
Menerangi Wamena dengan Air
by : Wahyu Utomo
JIKA Pulau Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) punya potensi sumber daya alam (SDA) berupa kecepatan angin, dan terik matahari. Kemudian diolah menjadi tenaga listrik. Tak jauh beda dengan Papua. Provinsi paling timur Indonesia ini memiliki SDA begitu potensial yakni air. Air di bumi Cenderawasih ini pun tidak seperti di wilayah lainnya. Air di Papua memiliki debit lebih dari cukup jika dikembangkan menjadi pembangkit listrik.
Tengok apa yang dilakukan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Papua, Ranting Wamena. Mereka giat memanfaatkan potensi air diubah menjadi pembangkit listrik, meski berkapasitas kecil-kecil.
Di wilayah ini sistem kelistrikan ditopang tiga unit pembangkit yakni Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) Walesi (empat unit, 1.640 kW), PLTM Sinagma (tiga unit, 400 kW), dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Sinagma (dua unit, 970 kW). “Beban puncak Wamena saat ini berkisar kurang lebih 2,60 mega watt (mw) dengan daya mampu total sebesar kurang lebih 2,66 mw,” kata General Manager (GM) PLN Wilayah Papua, Benny MM Marbun di Jakarta, belum lama ini.
Boleh jadi pembangkit berkapasitas kecil apabila digabungkan akan menjadi besar. Mengingat kondisi alam di Papua terkenal dengan kawasan pegunungan dan perbukitan. Wamena selama ini terkenal sebagai daerah penghasil umbi raksasa (umbi Wamena), akan beranjak tidak hanya sebagai penghasil umbi. Juga penghasil energi, seperti PLTM.
Benny menyadari, saat ini untuk kegiatan yang berhubungan dengan pengangkutan bahan bakar minyak (BBM) ke Wamena harus melalui transportasi udara. “Bisa dibayangkan cost yang harus PLN keluarkan. Sudah harga BBM mahal, masih ditambah lagi biaya angkutnya,” katanya.
Karena lokasi geografis yang hanya terjangkau pesawat udara untuk mengangkut BBM dari Jayapura ke Wamena, setiap bulan diperlukan tambahan ongkos angkut 7.600 per liter atau Rp263 juta per bulan.
Secara teknis, kata Benny, keberadaan energi listrik dari sumber energi terbarukan ini diperoleh manfaat antara lain, bertambahnya pasokan tenaga listrik di sistem tempat PLTM dibangun, dan memberikan perbaikan tenaga listrik di ujung-ujung jaringan. Lalu mengurangi atau mengganti pembangkit listrik yang menggunakan BBM. Secara nasional berarti mengurangi beban negara dari subsidi BBM, dan dapat memberikan andil menjaga kerusakan lingkungan.
Pun begitu, terlepas dari pemanfaatan tenaga air, ucap Benny, 97 persen listrik yang dijual PLN itu diproduksi dari pembangkit berbahan bakar solar. “Hanya tiga persen yang diproduksi dari tenaga air. Karena itu, biaya produksi menjadi sangat besar, kurang lebih Rp3.600, harga jual rata-rata Rp700. Walaupun harga jual rendah, dan biaya produksi tinggi PLN tetap komitmen melayani masyarakat sesuai kemampuan mesin PLN.”
Menurut dia, tidak hanya di Wamena, di Papua potensi SDA besar, dan dapat dipergunakan sebagai pembangkit listrik adalah air. Kendati di beberapa daerah seperti Sorong, misalnya terdapat gas, tetapi sejauh ini belum mengembangkan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG).
Lantas apa saja komponen utama PLTM? Benny menjelaskan, komponen utamanya; weir (bendung) yang berfungsi membelokkan arah air sungai menuju saluran. Kantong pasir berfungsi mengendapkan partikel pasir yang dibawa air sungai agar tidak masuk ke turbin. Saluran penghantar, berfungsi membawa air menuju kolam penenang, pipa pesat berfungsi membawa air menuju turbin. Turbin berfungsi mengubah energi air menjadi energi mekanik turbin, dan generator berfungsi mengubah energi mekanik menjadi energi listrik.
Sayangnya, upaya pengembangan, dan eksplorasi SDA menjadi sumber kelistrikan itu belum sepenuhnya dipahami masyarakat setempat yang memang beranjak dari keterbelakangan. ”Saat menunggak, dan tidak mau membayar, listriknya diputus mereka tidak menyesal. Karena terbiasa kegelapan. Bagi PLN tentu menjadi kerugian, karena tunggakan itu tidak juga dibayar.”
http://jurnalnasional.com/?media=KR&cari=eksplorasi&rbrk=&id=73583&pagekr=0&bkr=false&nkr=&pagebn=10&bbn=false&nbn=true
Kamis, 22 Mei 2008 98:06:17
Artikel Iptek
Anak Bangsa Mati di Lumbung Energi
Oleh Yuli Setyo Indartono


"Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat" [UUD 1945 Pasal 33 Ayat (3)]
Selain pangan, energi merupakan pendukung utama jalannya peradaban. Kemajuan suatu bangsa membutuhkan dukungan ketersediaan energi. Sebagai contoh, Amerika yang dianggap sebagai negara "super power" mengkonsumsi 21,4% energi dunia, sedangkan China, Jepang, dan Indonesia berturut-turut sebesar 15,6%, 4,8%, dan 1,1% energi dunia pada tahun 2006 [BP, 2008]. Kemajuan peradaban dunia menyebabkan kenaikan konsumsi energi dari 6.128 Mtoe di tahun 1972 menjadi 11.435 Mtoe (Juta ton setara minyak) di tahun 2005 [IEA, 2007]. Peningkatan kebutuhan energi di satu sisi dan keterbatasan pasokan energi konvensional di sisi lain, memunculkan isu keamanan energi (energy security) di berbagai negara di dunia.
Dilihat dari ketersediaan dan produksi energi fosil (minyak bumi, batubara, dan gas alam), Indonesia termasuk salah satu lumbung energi dunia. Betapa tidak, pada tahun 2006 kita memproduksi minyak bumi sebesar 1.071.000 barrel minyak per-hari (setara dengan 51,9 Juta ton minyak per-tahun); gas alam sebesar 66,6 Juta ton setara minyak; dan batubara sebesar 119,9 Juta ton setara minyak [BP, 2008]. Sedangkan pada tahun yang sama kita hanya mengkonsumsi bahan bakar fosil sebesar 112 Juta ton setara minyak (minyak bumi, gas, dan batubara berturut-turut sebesar 48,7, 35,6 dan 27,7 Mtoe) [BP, 2008]. Negara kita hanya mengkonsumsi sekitar 47% bahan bakar fosil yang dihasilkan dari bumi Ibu Pertiwi. Lalu bagaimana bisa terjadi antrian minyak tanah, BBM, dan gas di berbagai tempat? Lalu bagaimana bisa meroketnya harga minyak bumi dunia menyebabkan gonjang-ganjing kehidupan bangsa kita?
Indonesia tidak berdaulat penuh atas sumber daya energi yang dimilikinya. Jangan terkecoh dengan angka-angka produksi bahan bakar fosil nasional di atas, karena 48,4% gas dan 76,3% batubara kita dijual ke luar negeri [IEA, 2007]; dan tak ketinggalan pula, 41,3% minyak bumi kita juga diekspor [DESDM, 2006]. Sebagian dari ekspor tersebut diikat dengan kontrak jangka panjang. Maka tidak "aneh" manakala terdengar goncangnya industri lokal akibat ketiadaan pasokan gas alam. Ya, disadari ataupun tidak, "kita" lebih mementingkan keamanan energi bangsa lain dibandingkan dengan bangsa sendiri; meski hal tersebut mungkin muncul akibat pilihan bisnis semata. Hal tersebut diperparah dengan kurangnya diversifikasi sumber energi, kekeliruan managemen, dan watak "Kurawa" dari sebagian oknum yang pada akhirnya menyengsarakan rakyat.
Dari sisi diversifikasi (keanekaragaman) sumber energi, kondisi Indonesia kurang sehat bila dibandingkan dengan komposisi energi dunia: Indonesia masih bertumpu pada minyak bumi (54,4% dari total energi [DESDM, 2005]), sementara kontribusi minyak terhadap total energi dunia sudah turun menjadi 35% [IEA, 2007]. Parahnya, justru neraca energi di sektor minyak bumilah yang kurang menguntungkan; 44,4% minyak bumi yang kita gunakan berasal dari luar negeri; sebuah komposisi yang rentan terhadap gejolak minyak dunia. Di sisi lain, kita justru mengekspor 45,7% minyak bumi yang kita hasilkan ke luar negeri; kemungkinan karena kemampuan kilang minyak kita yang belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan BBM dalam negeri (baru sekitar 67% dari kebutuhan BBM dalam negeri).
Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan energi nasional dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam peraturan tersebut, pada tahun 2025 konsumsi minyak bumi diharapkan turun menjadi 20%, gas alam naik menjadi 30%, batubara naik menjadi 33%, sedangkan energi baru dan terbarukan naik menjadi 17%. Target capaian energi terbarukan pada Perpres tersebut (yakni 15%) cukup maju dibandingkan dengan negara tetangga seperti Australia yang hanya 6% pada tahun 2029-2030 [Australia's Energy Outlook, 2006], sedangkan India mentargetkan kontribusi tenaga air dan nuklir sebesar 11,8% pada tahun 2031-2032 [WEC, 2006].
Secara umum, keamanan energy (energy security) dapat dipenuhi melalui dua cara, yakni diversifikasi energi (yang telah diatur dalam Perpres No 5 tahun 2006) dan penghematan energi (yang telah diatur di berbagai peraturan: misalnya Instruksi Presiden No 10 tahun 2005 tentang Penghematan Energi yang selanjutnya diatur prosedurnya melalui Keputusan Menteri ESDM No 0031 tahun 2005, kemudian Pasal 25 dari UU No 30 tahun 2007 tentang Energi juga mengatur perihal penghematan energi). Semua sektor penyedia dan pengguna energi perlu melakukan upaya diversifikasi dan penghematan energi guna mencapai keamanan energi nasional.
Transportasi
Sektor transportasi merupakan salah satu sarana vital yang memiliki multiplyer effect ke berbagai sektor lain. Celakanya, sumber energi di sektor ini hampir belum terdiversifikasi sama sekali. 99,96% sumber energi yang digunakan di sektor transportasi adalah BBM [DESDM, 2008]. Praktis, sektor inilah yang biasanya paling terpukul manakala terjadi krisis minyak dunia; dan hal ini bukan sekali ini saja terjadi. Cita-cita luhur Pemerintah untuk meningkatkan penggunaan BBN (Bahan Bakar Nabati) sebagai pengganti BBM masih terseok-seok. Kenyataannya, capaian produksi BBN (biodiesel dan bioethanol) kurang dari 10% dibandingkan dengan target tahunan Tim Nasional BBN. Salah satu kendala seriusnya, Pemerintah tidak melakukan intervensi terhadap BBN sebagaimana intervensi yang diberikan kepada BBM. Padahal ditinjau dari segi lingkungan hidup, berbagai hasil riset menyatakan bahwa secara keseluruhan BBN lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan BBM (meski ada pihak-pihak yang masih mempersoalkan "kehijauan" BBN). Dan yang jelas, BBN bisa berperan dalam mengurangi ketergantungan impor energi.
Dari data neraca energi nasional, gas alam merupakan sumber energi yang paling siap menggantikan posisi BBM di sektor transportasi. Apalagi mengingat cadangan minyak Indonesia tidaklah besar; terbatas sampai tahun 2022 (versi Blue Print Pengelolaan Energi Nasional) dan 2017 (versi British Petroleum). Pembangunan SPBBG di berbagai wilayah dan kerjasama dengan produsen kendaraan bermotor perlu segera dilakukan guna memuluskan penggunan BBG pada kendaraan bermotor. Bila memungkinkan, re-negosiasi kontrak-kontrak gas dengan asing perlu dilakukan guna mencukupi pasokan energi jangka pendek. Dalam jangka panjang, perlu kebijakan untuk mengalokasikan produksi gas baru guna mencukupi kebutuhan dalam negeri.
Lebih penting dari itu, pembangunan transportasi massal yang baik adalah hal yang tidak bisa ditawar dan ditunda lagi; baik bagi kota yang sudah terlanjur metropolis, maupun yang sedang beranjak besar. Cukuplah Jakarta yang menjadi pelajaran berharga bagi seluruh kota di tanah air; jangan tunggu menjadi serumit Jakarta untuk membangun transportasi massal yang baik. Jakarta sudah tak punya pilihan lain; data perkembangan jumlah kendaraan dan jalan menunjukkan bahwa tahun 2014 kemacetan total bisa terjadi di seluruh pelosok Jakarta bila tidak dilakukan pembatasan-pembatasan.
Industri
Konsumsi energi final di sektor ini adalah yang tertinggi (dibandingkan dengan sektor transportasi, rumah tangga dan komersial). Kontribusi minyak bumi pada komposisi energi final sektor industri adalah sebesar 35,7%; lainnya disumbang oleh gas alam, batubara, LPG, dan listrik [DESDM, 2008]. Diversifikasi yang sudah berjalan di sektor industri ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan; antara lain dengan meningkatkan penggunaan BBN (Bahan Bakar Nabati) guna lebih jauh menurunkan konsumsi minyak bumi. Selain diversifikasi energi, hal yang tidak kalah penting dilakukan di sektor industri adalah penghematan energi. Data dari Departemen Perindustrian menyatakan bahwa potensi penghematan energi di sektor ini rata-rata adalah sebesar 22% - suatu angka yang signifikan apabila bisa diwujudkan.
Rumah tangga dan Komersial
Dominasi BBM pada komposisi energi final di sektor ini cukup tinggi, yakni sebesar 60,2%. Sisanya disumbang oleh LPG 5,1% dan listrik 34,1% (sebagian kecil menggunakan batubara sebesar 0,5% dan gas alam 0,1%) [DESDM, 2008]. Seperti halnya di sektor yang lain, strategi pengamanan pasokan energi di sektor ini meliputi diversifikasi energi dan penghematan energi. Selain diversifikasi menggunakan gas alam, sumber energi non-fosil yang cocok untuk pemenuhan energi sektor rumah tangga dan komersial adalah sumber energi biomassa (biogas, waste to energy, dsb.). Sektor rumah tangga dan komersial bisa berperan besar dalam penghematan energi melalui penggunaan alat-alat hemat energi dan internalisasi budaya hemat energi sejak kanak-kanak.
Pembangkit energi
Berbeda dengan ke-tiga sektor di atas, pembangkit energi mengkonsumsi energi primer untuk selanjutnya ditransformasikan menjadi energi final (listrik) yang antara lain dikonsumsi oleh sektor industri dan rumah tangga serta komersial. Diversifikasi energi di sektor ini cukup baik. BBM berkontribusi sebesar 26,2% dari pasokan energi primer; batubara mendominasi dengan 40,4%, sedangkan sisanya disumbang oleh tenaga air (13,3%), gas alam (11,2%), panas bumi (8,9%), dan biomassa (0,02%) [DESDM, 2006]. Maksimalisasi gas alam, tenaga panas bumi, dan biomassa (BBN dan limbah/sampah organik) akan semakin menurunkan peran BBM dalam pembangkitan listrik.
Peningkatan efisiensi pada pembangkit listrik bisa dilakukan, salah satunya melalui penerapan siklus kombinasi (combined cycle) antara PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) dan PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas). Pemanfaatan gas buang dari PLTG yang masih memiliki temperatur tinggi untuk menguapkan air di siklus PLTU akan menghasilkan efisiensi siklus gabungan yang sangat tinggi. Opsi lain untuk maksimalisasi energi PLTG adalah melaui kombinasi dengan siklus refrigerasi absorbsi. Teknik semacam ini telah diterapkan di Shinjuku Jepang; dari satu sumber energi (gas alam) dihasilkanlah listrik, air panas, dan air dingin untuk refrigerasi (pendingin dan pengkondisian udara).
Subsidi BBM
Impor BBM sebesar 44,4% merupakan indikator ketidakmandirian bangsa kita dalam pemenuhan kebutuhan BBM. Bila kita cermati, eksplorasi minyak bumi Ibu Pertiwi sebagian dilakukan oleh perusahaan asing. Pemerintah tidak punya kendali penuh atas BBM. Akibatnya adalah tingginya sensitivitas anggaran subsidi BBM setiap kali terjadi kenaikan harga minyak dunia. Subsidi merupakan selisih antara harga jual BBM internasional dengan harga jual dalam negeri. Pemerintah selalu mengedepankan beban subsidi yang harus ditanggung APBN; sementara di sisi lain, keuntungan (gain) yang didapatkan Pemerintah dari ekspor BBM (yang jumlahnya setara dengan impor) jarang dikemukakan kepada masyarakat. Mungkin Pemerintah beralasan bahwa keuntungan tersebut masuk dalam pos anggaran penerimaan negara yang selanjutnya, toh, juga dipergunakan untuk membiayai pembangunan nasional. Namun, tetap saja, hal tersebut menyisakan ruang "remang-remang" yang menimbulkan berbagai spekulasi yang pada gilirannya justru kontra-produktif terhadap Pemerintah. Masyarakat memerlukan transparansi yang kemudian dikomunikasikan. Kekurangan semacam ini pula yang membuat program sebaik peralihan minyak tanah ke gas (LPG) terkendala.
Energi baru dan terbarukan
Energi baru dan terbarukan memikul beban yang sangat berat di masa mendatang. Berdasarkan Perpres No 5 tahun 2006, kontribusi minyak bumi adalah sebesar 20%. Padahal dari dokumen resmi Pemerintah (Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025) dapat dihitung bahwa ketersediaan minyak bumi Indonesia hanya sampai tahun 2022 (British Petroleum bahkan memprediksi hanya sampai 2017) -bila tanpa penemuan sumber-sumber terbukti (proved reserves) yang baru. Artinya, pada tahun 2025, Republik Indonesia bisa mengimpor seluruh BBM yang kontribusinya sebesar 20% dari total energi nasional tersebut. Karena beban untuk batubara dan gas alam juga meningkat (apalagi sebagian telah dikontrak untuk ekspor), maka pilihan jatuh pada energi baru dan terbarukan. Ini berarti beban energi baru dan terbarukan di tahun 2025 adalah sebesar 37%; bila kita memilih untuk tidak mengimpor minyak bumi.
Berdasarkan Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025, energi baru dan terbarukan yang bisa dikembangkan di tanah air meliputi panas bumi, tenaga air, biomassa, surya, angin, dan nuklir. Bila kita bisa menggunakan 75% potensi energi terbarukan (panas bumi, tenaga air, biomassa, dan angin) ditambah dengan penggunaan photovoltaic pada 0,1% luas daratan Indonesia dengan efisiensi 20%, maka energi terbarukan tersebut bisa menyumbang hingga 39,5% dari kebutuhan energi nasional pada tahun 2025. Batubara dan gas alam masih memiliki peranan penting dalam pemenuhan energi nasional.
Bagaimana dengan energi nuklir? Berdasarkan Blue Print Pengelolaan Energi Nasional, energi nuklir diharapkan mampu berkontribusi sebesar 2% dari total kebutuhan energi nasional pada tahun 2025. Bila dibandingkan dengan peta jalan (roadmap) energi nuklir sebagaimana tercantum dalam Blue Print Pengelolaan Energi Nasional, realisasi teknologi nuklir cukup terlambat. Kenyataan menunjukkan masih adanya resistensi masyarakat yang daerahnya akan dijadikan lokasi PLTN. Perlu dilakukan dialog yang lebih intensif dengan para pemangku kepentingan disertai dengan kajian komprehensif tentang dampak lingkungan (utamanya masalah pengelolaan limbah nuklir) dan faktor keamanan PLTN. Disamping itu, realisasi teknologi nuklir harus pula mengkaji pemenuhan kebutuhan uranium. Idealnya, jangan sampai menciptakan ketergantungan sumber energi (uranium) dari luar negeri.
Energi dan Perubahan Iklim
Telah umum diketahui bahwasanya CO2 merupakan GRK (Gas Rumah Kaca) utama yang memerangkap panas di lapisan atmosfer bawah (troposfer) dan selanjutnya menghangatkan permukaan bumi. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) dalam laporannya (assessment report) yang ke-4 melaporkan bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer telah mencapai 379 ppm; melebihi rentang normal antara 180-300 ppm yang bertahan selama 650.000 tahun terakhir. Akibatnya, dari hasil pencatatan diketahui bahwa rata-rata temperatur bumi telah mengalami peningkatan sebesar 0,79oC dibandingkan dengan masa sebelum revolusi industri. Pemanasan global telah terjadi dan kait-mengkait dengan perubahan perilaku cuaca dan iklim bumi. Pencairan es di wilayah Kutub Utara dan sekitarnya (termasuk Greenland) menjadi bukti telah terjadinya pemanasan global.
Sektor energi memegang peran dominan dalam masalah pemanasan global, karena 56,6% emisi CO2 dunia dihasilkan dari sektor energi [IPCC, 2007]. Dari sektor energi, kontribusi Indonesia terhadap emisi CO2 dunia sekitar 1,26%; jauh dibawah Amerika yang berkontribusi sebesar 21,4% [IEA, 2007]. Di sisi lain, sebagai negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang 81.000 km [KLH, 2007], Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat rentan terhadap dampak pemanasan global dan perubahan iklim. Bakosurtanal mencatat kenaikan permukaan air laut di beberapa wilayah di tanah air sebesar 8 mm per-tahun [KLH, 2007]; melebihi rata-rata dunia yang mencapai 1,8 mm per-tahun [IPCC, 2007]. Perubahan intensitas hujan dan panjang musim hujan serta kemarau ditengarai berbagai pihak sebagai dampak nyata telah terjadinya perubahan iklim di tanah air. Oleh karena itu, Indonesia sangat berkepentingan dengan upaya kolektif masyarakat internasional dalam mencegah perubahan iklim yang lebih tidak bersahabat. Di sektor energi, penerapan sumber energi yang ramah lingkungan seperti tenaga air, panas bumi, surya, angin, dan biomassa serta penghematan energi akan mampu menekan laju emisi CO2.
Jalan ke depan
Bila Pemerintah tetap bertekad mengurangi subsidi BBM, momen ini harus digunakan seoptimal mungkin untuk menjamin keamanan energi di masa mendatang. Masa lalu tidak bisa kita ubah. Kontrak ekspor sumber daya energi Ibu Pertiwi kepada bangsa asing adalah kenyataan masa kini akibat kebijakan masa lalu. Pengelolaan sumber daya alam nasional oleh perusahaan asing juga merupakan kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri. Kita harus tetap bisa bermain, meski dalam ruang yang lebih sempit, demi kesejahteraan rakyat Indonesia. Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengamankan pasokan energi nasional adalah sebagai berikut:
1. Pemerintah perlu melakukan re-negosiasi kontrak-kontrak ekspor sumber daya energi dengan pihak asing. Keamanan energi nasional perlu mendapatkan prioritas di atas keamanan energi bangsa lain. Untuk masa mendatang Pemerintah perlu berhitung benar agar hasil dari eksplorasi-eksplorasi sumber energi mendukung keamanan energi nasional.
2. Seluruh komponen bangsa harus melakukan usaha penghematan energi yang sungguh-sungguh. Tegakah kita melihat anak cucu kita bergelut dengan kekurangan energi sementara saat ini kita berkecukupan? Jangan sampai mereka kelak menyalahkan kita atas prahara energi yang kemungkinan menimpa mereka.
3. Penghematan subsidi BBM harus dialokasikan untuk aplikasi teknologi energi baru dan terbarukan yang sudah siap. Selain itu, riset dan pengembangan teknologi energi baru dan terbarukan yang belum matang (mature) perlu dilakukan secara sungguh-sungguh dan sistematik. Hal ini memerlukan kebijakan yang jelas-kuat-terkoordinasi yang disertai monitoring dan audit secara periodik untuk menilai ketercapaian program. Selain berperan dalam pengamanan stok energi nasional, pengembangan energi terbarukan perlu mendapatkan dukungan karena berkontribusi dalam menekan laju emisi CO2.
4. Pengembangan BBN (Bahan Bakar Nabati) perlu diarahkan agar menggunakan tanaman non-pangan (non-edible). Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari benturan antara penyediaan BBN dengan upaya penyediaan pangan. Tanaman jarak pagar (Jatropha Curcas) merupakan salah satu jenis yang ideal untuk diproses menjadi biodiesel (FAME: Fatty Acid Methyl Ester) karena jarak pagar tidak memiliki karakteristik sebagai tanaman pangan (spesies Jatropha Curcas yang ada di Indonesia umumnya beracun [ICECRD, 2007]). Lebih jauh lagi, budidaya bahan baku BBN sebaiknya dilakukan di lahan non-pangan. Data dari Rencana Aksi Nasional Menghadapi Perubahan Iklim [KLH, 2007] menyebut adanya kawasan hutan terdegradasi seluas 53,9 juta hektar. Ideal apabila sebagian kawasan tersebut bisa dihijaukan dengan tanaman bahan baku BBN.
5. Pemerintah dan seluruh komponen bangsa harus berusaha keras untuk secara bertahap mengelola sumber daya alamnya secara mandiri. Meski kerjasama dengan luar negeri tidak bisa dinafikan dalam ruang global seperti saat ini, dominasi perusahaan nasional harus semakin tercermin dalam prosentase pengelolaan sumber daya alam. Dengan cara demikianlah kita bisa memenuhi amanat para Pendiri Bangsa: bahwa bumi dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia.
100 tahun peringatan Hari Kebangkitan Nasional hendaknya menjadi momen Kebangkitan Energi Nasional. Jangan terjadi; anak bangsa mati di lumbung energi.
* Anggota Kelompok Keahlian Konversi Energi, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, ITB. Anggota Delegasi RI dalam United Nations Conference on Climate Change, Bali 2007. Ketua Divisi Teknologi Energi INDENI (Indonesia Energy Information Center) www.indeni.org
Nomenklatur:
APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
BBM : Bahan Bakar Minyak
BBN : Bahan Bakar Nabati
BP : British Petroleum
DESDM : Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia
ICECRD : Indonesian Center for Estate Crops Research and Development
IEA : Inernational Energy Agency
IPCC : Intergovernmental Panel on Climate Change
KLH : Kementerian Lingkungan Hidup RI
LPG : Liquefied Petroleum Gas
PLTU : Pembangkit Listrik Tenaga Uap
PLTG : Pembangkit Listrik Tenaga Gas
PLTN : Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
SPBBG : Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas
WEC : World Energy Council
http://beritaiptek.com/pilihberita.php?id=396